Karena Teknologi GPS, Wanita Nakal Ini Sepi Pelanggan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warung remang-remang. TEMPO/Yosep Arkian

    Warung remang-remang. TEMPO/Yosep Arkian

    TEMPO.CO , Tegal : Akhir Mei 2015. Jarum jam di warung sate kambing menunjuk pukul 00.45. Sebuah etalase kecil sudah kosong, menyisakan kawat-kawat penggantung daging. Tapi Yati, sebutlah begitu namanya, masih menanti pembeli di teras, yang hanya satu meter dari Jalur Pantura Maribaya, Kabupaten Tegal.

    Demi mengusir sepi, televisi di atas lemari dinyalakan dengan volume tinggi. Namun, mata perempuan itu berpaling dari layar kaca. Tatapannya beredar ke tiap pengendara motor yang melintas depan warungnya.

    "Mau sekalian dipijat?" kata Yati sambil menyodorkan secangkir kopi yang dipesan Tempo. Mengaku lahir di Lampung, Yati fasih bicara bahasa Jawa dialek Tegal. "Ngobrolnya di dalam saja, yuk. Biar nyantai," katanya.

    Baca juga:

    Duh, Dokter Gigi Video-kan Pasien Wanita Saat di Toilet

    Ribut Ahok Vs Djarot: Ini Surat yang Bikin Geram Ahok

    Warung berukuran 4 x 6 meter itu, masih menyimpan ruangan yang lumayan lebar di belakang. "Kalau ada tamu yang mau minum-minuman keras, di sini tempatnya," kata dia, menunjukkan kursi-kursi kayu yang mengelilingi satu meja bundar. Di kanan dan kiri ruang itu ada empat kamar berukuran 3 x 2,5 meter. Semua kosong.

    Kamar sempit itu hanya berisi kasur yang bersprei lusuh dan lemari kayu usang. "Saya nawari pijat dulu. Tapi kalau maunya langsung cucus (hubungan intim), ya, ayo," kata Yati, sambil berkali-kali memastikan keamanan warungnya dari razia. Alasannya, pemilik warung rutin membayar uang keamanan. "Warung-warung di sini buka sampai pagi," kata dia.

    Baca juga: 
    Kisah LulusanTerbaik UNS: Keluarganya Miskin, Rumah Sekamar

    Di Sini Banyak Hantu Direkam: Inikah Kota Terseram di Dunia?

    Sama dengan warung Yati, Dina membuka warung dengan tiga kamar "rahasia". Sopir truk tronton, Bambang ES, mengatakan tidak semua sopir truk bisa disamakan, sebagai pria hidung belang di warung remang-remang. "Mungkin ada beberapa teman seperti itu, sekadar melepas lelah," katanya.

    Sejak ada teknologi Global Positioning System, kata Bambang, sopir truk ekspedisi lebih tertib. Perusahaan bisa memantau tiap pergerakan. "Kalau berhenti terlalu lama di suatu titik, kantor bisa langsung menelepon," kata dia.

    Tudingan ihwal kencan di tengah perjalanan juga ditampik Jamaludin, 22 tahun, sopir truk engkel ganda jurusan Jakarta-Semarang. "Jangankan buat jajan, membayar ongkos kernet saja tidak mampu," katanya.

    DINDA LEO LISTY

    SIMAK:

    Terlalu Heboh Saat Bercinta, Wanita Ini Dihukum Penjara

    Karena Muslim, Wanita Ini Dilecehkan Pramugari Amerika

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Para Pencari Suaka Afganistan dan Data Sejak 2008

    Para pencari suaka Afganistan telantar di depan Kementerian BUMN di Jakarta pada Juli 2019. Sejak 2008, ada puluhan ribu pencari suaka di Indonesia.