Isu Beras Plastik Bisa Rugikan Petani  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pertanian Amran Sulaiman, saat menjawab pertanyaan wartawan soal isu beras plastik, dan menyatakan bahwa isu tersebut adalah tidak benar. Makassar, 27 Mei 2015. TEMPO/Hariandi Hafid

    Menteri Pertanian Amran Sulaiman, saat menjawab pertanyaan wartawan soal isu beras plastik, dan menyatakan bahwa isu tersebut adalah tidak benar. Makassar, 27 Mei 2015. TEMPO/Hariandi Hafid

    TEMPO.CO, Depok - Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia Nining Indroyono Susilo mengatakan isu beras sintetis atau beras plastik merugikan petani beras di Indonesia. Pasalnya, isu itu berpotensi menurunkan permintaan beras karena sebagian masyarakat takut mengkonsumsi beras. "Petani dirugikan karena permintaan beras turun, sehingga akan ada substitusi ke yang lain," kata Nining, Sabtu, 30 Mei 2015.

    Karena itu, pemerintah harus menjelaskan pada masyarakat mengenai isu beras plastik itu, apakah benar ada atau tidak. Bila beras plastik itu tidak ada, harus segera dilakukan klarifikasi sebaik mungkin. Namun bila isu itu benar, pemerintah mesti memperkuat pengawasan dan menghentikan peredaran beras plastik tersebut.

    Menurut Nining, masalah ini bisa menjadi bahan evaluasi pemerintah untuk memperbaiki kualitas beras. Apalagi kebutuhan masyarakat akan beras yang berkualitas, seperti beras organik semakin tinggi.

    Menimbang kondisi itu, ia menyarankan petani untuk lebih banyak memproduksi beras organik. Meski harga beras organik lebih mahal, beras semacam ini terus dicari pembeli karena dianggap lebih sehat dan aman. "Ini bisa menjadi kesempatan petani beras organik untuk memproduksi lebih banyak beras organik," ucapnya.

    IMAM HAMDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia Memberangkatkan 529 Kloter pada Musim Haji 2019

    Pada musim haji 2019, Indonesia memberangkatkan 529 kelompok terbang, populer disebut kloter, yang akan dibagi dalam dua gelombang.