Calon Panglima TNI: Inilah 3 Jagoan Pengganti Moeldoko  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (tengah) di dampingi oleh Plt Kepala Kepolisian Republik Indonesia Badrodin Haiti (kanan) dan  Panglima TNI Jenderal Moeldoko (kiri) usai foto bersama dengan peserta rapat pimpinan nasional TNI-Polri di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian, Jakarta, 3 Maret 2015. Joko Widodo akan memberikan arahan kepada TNI dan Polri dalam menyongsong arah perbaikan ke depannya. Tempo/Aditia Noviansyah

    Presiden Joko Widodo (tengah) di dampingi oleh Plt Kepala Kepolisian Republik Indonesia Badrodin Haiti (kanan) dan Panglima TNI Jenderal Moeldoko (kiri) usai foto bersama dengan peserta rapat pimpinan nasional TNI-Polri di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian, Jakarta, 3 Maret 2015. Joko Widodo akan memberikan arahan kepada TNI dan Polri dalam menyongsong arah perbaikan ke depannya. Tempo/Aditia Noviansyah

    TEMPO.COJakarta - Presiden Joko Widodo belum memutuskan calon Panglima Tentara Nasional Indonesia untuk menggantikan Jenderal Moeldoko yang segera pensiun. "Pak Presiden belum membahas soal nama calon panglima," kata Menteri Sekretaris Negara Pratikno di kantor Sekretariat Negara, 28 Mei 2015.

    Pratikno menyatakan tidak tahu kapan nama pengganti Moeldoko akan dibahas. Begitu pula soal asal angkatan kandidat yang, menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla, masih akan digodok. "Biar Presiden yang mengurus saja nanti," kata JK di kantornya.

    Baca: Jokowi Jangan Blunder Pilih Panglima TNI

    Jenderal Moeldoko akan mengakhiri masa jabatan pada 1 Agustus 2015. Berdasarkan Pasal 13 ayat 4 Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, jabatan panglima dapat dijabat secara bergantian oleh perwira tinggi aktif dari tiap angkatan yang sedang atau pernah menjabat sebagai kepala staf angkatan.

    Tiga Kandidat

    Direktur Program Imparsial Al Araf meminta Jokowi tetap memperhatikan sistem rotasi dalam pergantian panglima. Berdasarkan aturan itu, Al Araf menyebut Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna lebih berhak menggantikan Moeldoko, yang berasal dari Angkatan Darat. "Sebelumnya ada Agus Suhartono dari Angkatan Laut, jadi saat ini Angkatan Udara yang seharusnya jadi panglima," kata dia.

    Al Araf juga menyebut pentingnya faktor rekam jejak para calon. Kandidat panglima, menurut dia, harus berpihak pada hak asasi manusia. "Mendukung penegakan dan pembela HAM," kata dia. Rekam jejak ini penting karena selama ini TNI selalu diidentikkan sebagai pihak yang tidak pro-HAM. Bahkan, tak jarang TNI dikaitkan dengan pelaku pelanggaran HAM.

    Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Hafidz Abbas menilai nama para calon panglima cukup baik dan bersih. Selain Marsekal Agus, dua kandidat lain adalah Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Gatot Nurmantyo (Baca: Masuk Kandidat Panglima TNI, KSAD: Saya Cuma Prajurit) dan Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Ade Supandi. "Reformasi di tubuh TNI sangat menggembirakan karena pengaduan masyarakat soal TNI sangat sedikit," ujarnya.

    Marsekal Agus tidak mau banyak berkomentar ihwal namanya yang disebut sebagai kandidat kuat untuk menggantilan Moeldoko. "Semua hanya Allah yang tahu dan saya pasrah kepada-Nya," kata Agus.

    INDRA WIJAYA | REZA ADITYA | TIKA PRIMANDARI I MAHARDIKA SATRIA HADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Instagram Uji Coba Menghilangan Fitur Likes agar Fokus ke Konten

    Instagram tengah lakukan uji coba penghapusan fitur likes di beberapa negara pada Juli 2019. Reaksi pengguna terbelah, sebagian merasa dirugikan.