Ketika Pengungsi Rohingya Bikin Gemas Gara-gara Cabai

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengungsi Rohingya menerima makan pagi di tempat penampungan sementara di Kuala Langsa, Aceh, 25 Mei 2015. REUTERS/Darren Whiteside

    Pengungsi Rohingya menerima makan pagi di tempat penampungan sementara di Kuala Langsa, Aceh, 25 Mei 2015. REUTERS/Darren Whiteside

    TEMPO.COAceh Timur - Dapur umum posko pengungsi Rohingya dan Bangladesh di Desa Bayeun, Rantau Selamat, Aceh Timur, didirikan di bawah rumpun kelapa sawit di pojok kiri kamp pengungsian. Tak jauh dari situ, sebuah karung putih ukuran 2 x 2 meter dibentangkan di atas tanah. Tumpukan tinggi cabai merah segar diletakkan di atas karung tersebut. (Baca: Posko Pengungsi Rohingya di Aceh Jadi Tontonan Warga)

    Cabai sebanyak itu dialokasikan bagi pengungsi yang ternyata memang gemar makan cabai. Afiffudin, petugas Dinas Kesehatan Aceh Timur, mengatakan para pengungsi biasa makan cabai merah mentah-mentah tanpa dimasak lebih dulu. "Saat makan, di tangan mereka selalu ada cabai merah utuh yang langsung digigiti seperti lalapan," kata Afif kepada Tempo, Kamis, 28 Mei 2015. (Baca: Kenalkan Ashin Wirathu, Biksu Pembenci Muslim Rohingya)

    Hassan Ali, 33 tahun, seorang pengungsi, mengatakan dia dan pengungsi lain menggemari cabai karena memberikan rasa pada makanan. Para pengungsi belum terbiasa dengan makanan Indonesia yang disajikan di posko penampungan. Tak hanya itu, saat pelayaran pun, cabai merupakan bekal utama mereka. Ali berujar, di kapal, ada sekarung cabai yang biasa dimakan mentah tanpa ditemani makanan lain. (Baca: Jago Bahasa Inggris, Pengungsi Rohingya Ini Punya Mimpi Lain)

    Selain cabai, kegemaran lain pengungsi adalah jeruk nipis. Jeruk kecil asam yang sedianya untuk bumbu memasak ikan agar tak amis itu justru habis dicamili pengungsi. Ini jadi camilan favorit perempuan dan anak-anak. "Mereka makan jeruk nipis seperti jeruk manis," ujar Yeni Ginting, staf Puskesmas Aceh Timur, yang bertugas di klinik posko.

    Yeni gemas dengan kebiasaan para pengungsi itu. Sebabnya, efek jeruk nipis membuat mereka bolak-balik minta obat diare. Dari pagi hingga malam, klinik dipenuhi pengungsi dengan keluhan perut. Mereka menunjuk-nunjuk perut sambil melirik gambar orang sakit perut di meja klinik. Bahkan ada pengungsi yang lima kali ke toilet. "Gimana enggak diare kalau makannya begitu," tutur Yeni. (Baca: Cerita Imigran Bangladesh, Dua Bulan di Laut tanpa Makan)

    MOYANG KASIH DEWIMERDEKA

    Simak:
    VIDEO: Pengungsi Rohingya: Kesalahan Kami karena Kami Muslim
    Ritual Unik di Kamp Pengungsi Rohingya Setiap Pagi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.