Janda Indira Jual Rumah Plus Mau Diperistri: Tiru Wina Lia?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kiri: Wina Lia, penjual rumah bonus istri di Sleman, Yogyakarta. TEMPO/Muh. Syaifullah Kanan: Indira Astarisa, mantan model yang menjual rumah sekaligus mencari pasangan hidup. TEMPO/Eko Widianto

    Kiri: Wina Lia, penjual rumah bonus istri di Sleman, Yogyakarta. TEMPO/Muh. Syaifullah Kanan: Indira Astarisa, mantan model yang menjual rumah sekaligus mencari pasangan hidup. TEMPO/Eko Widianto

    TEMPO.CO, Malang - Janda beranak satu penjual rumah Rp 1,7 miliar, Indira Astarisa, 40 tahun, mengaku tak menetapkan standar tertentu untuk calon suami. Penampilan fisik tak menjadi faktor utama. "Tak harus tampan. Yang penting cocok," kata Indira, Jumat, 29 Mei 2015.

    Calon pendamping, katanya, yang penting setia, bertanggung jawab, dan menerima apa adanya. Termasuk juga menerima anak tunggalnya, Arya Tereoga Gimbaralam, 19 tahun. Rencana menjual rumah sekaligus mencari jodoh tersebut juga disampaikan kepada anaknya. Jika ada syarat khusus untuk calon suami, kata Indira, "Saya tak mau dipoligami."

    Keinginan Indira menjual rumah bonus istri itu dimuat dalam sebuah iklan di Harian Surya edisi 28 Mei 2015. Menurut dia, selama ini ia mengidamkan kembali berumah tangga setelah 15 tahun menjanda. Setiap malam, katanya, ia selalu berdoa untuk dipertemukan dengan jodohnya.

    Rumah berukuran 66 meter persegi dengan luas tanah 135 meter persegi dibelinya pada 2005. Ia membeli rumah dengan kredit, dari uang tabungan dari usahanya berjualan baju, tas dan kosmetik. Rumah tersebut telah ditempati selama delapan tahun. 

    "Soal jodoh pasrah kepada Tuhan," katanya. Yang penting, kata Indira, rumah tersebut terjual untuk tambahan modal usaha dan biaya kuliah anaknya.

    Indira juga mengklaim tak meniru cara Wina Lia, janda di Yogyakarta yang lebih dulu menjual rumah bonus istri. Ia menyatakan memang membutuhkan biaya kuliah anak sekaligus modal usaha butik yang dirintisnya. "Tak ada niat meniru," katanya.

    Ia membantah mencari popularitas atas pemberitaan tersebut. Bahkan, Indira  mengaku kaget setelah sehari iklan dipasang 200 orang mengaku tertarik membeli. Bahkan, sejumlah jurnalis memburunya untuk wawancara. "Saya tak butuh popularitas," ujarnya.

    EKO WIDIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.