Buruh Migran Kawal Kasus Winarti, TKI yang Dibunuh di Kairo

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Tenaga Kerja Indonesia (TKI). TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Ilustrasi Tenaga Kerja Indonesia (TKI). TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Lumajang - Koordiantor Serikat Buruh Migran Indonesia Wilayah Kabupaten Lumajang, Muhammad Zakky Gufron mengatakan pihaknya akan mengawal seluruh proses hukum hingga pemulangan jenazah Winarti, Tenaga Kerja Indonesia yang tewas dibunuh di Kairo, Mesir, Sabtu, 23 Mei 2015 lalu.

    "Kami minta pelaku pembunuhan terhadap Winarti dihukum seberat-beratnya," kata Gufron, Jumat 29 Mei 2015.


    Ihwal pemulangan jenazah korban, Gufron meyakini kalau KBRI di Kairo pasti sudah menyiapkan. "Kami meminta hak-hak dari TKI ini dipenuhi baik, dari asuransi di negara disana, Indonesia, atau gaji yang belum diberikan disana harus dipenuhi," ujar dia.

    Gufron mengatakan negara harus melindungi warga negara yang ada luar negeri. "Negara sudah jelas di UUD dan peraturan lainnya di UU tenaga kerja, seluruh warga negara yang ada di luar wajib dilindungi," katanya.

    Karena itu, kata Gufron, pihaknya meminta negara sepenuhnya mengontrol dan melindungi warga negara yang ada disana. "Resmi atau tidak resmi karena semua warga negara," kata dia. "Kami meminta barang pribadi korban dipulangkan juga, jika dalam bulan ini, gaji belum dibayarkan supaya dipenuhi juga."

    Winarti binti Musiar dibunuh oleh dua orang Mesir pada 23 Mei 2015. Winarti ditemukan tewas tergeletak di dalam kamar di rumah majikannya. Kedua pelaku adalah perampok yang hendak menyatroni rumah majikan korban. Kepolisian Aguza, Kairo telah menangkap kedua pelaku pembunuhan ini. Kabar tewasnya Winarti diinformasikan oleh KBRI di Kairo, Mesir, yang menelepon keluarga di Yosowilangun pada Selasa malam 26 Mei 2015.

    DAVID PRIYASIDHARTA


  • TKI
  •  

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Para Pencari Suaka Afganistan dan Data Sejak 2008

    Para pencari suaka Afganistan telantar di depan Kementerian BUMN di Jakarta pada Juli 2019. Sejak 2008, ada puluhan ribu pencari suaka di Indonesia.