Matahari di Atas Kabah, Ini Saran LAPAN untuk Masjid Baru

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Selembar sajadah dipersiapkan dalam percobaan mennentukan arah kiblat di atas gedung Temprint, Jakarta, 28 Mei 2015. Posisi Matahari yang melintas tepat di atas Ka'bah pada Kamis, 28 Mei 2015 pukul 16.18, menjadi saat yang tepat untuk menyempurnakan arah kiblat. TEMPO/Charisma Adristy

    Selembar sajadah dipersiapkan dalam percobaan mennentukan arah kiblat di atas gedung Temprint, Jakarta, 28 Mei 2015. Posisi Matahari yang melintas tepat di atas Ka'bah pada Kamis, 28 Mei 2015 pukul 16.18, menjadi saat yang tepat untuk menyempurnakan arah kiblat. TEMPO/Charisma Adristy

    TEMPO.CO, Jakarta - Perlintasan matahari di atas Kabah menjadi salah satu kesempatan untuk menentukan arah kiblat. Tahun ini fenomena tersebut kembali terjadi, yaitu pada 26-30 Mei pukul 16.18 WIB (09.18 UT/GMT) dan pada 14-18 Juli pukul 16.27 WIB (09.27 UT/GMT).

    Penyesuaian arah kiblat seperti ini, menurut Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaludin, merupakan cara tradisional berbasis astronomi. "Ini kesempatan untuk menyempurnakan arah kibat yang selama ini masih belum akurat," kata Thomas kepada Tempo, Kamis, 28 Mei 2015.

    Menurut Thomas, masjid yang sudah benar arahnya berarti sudah mengarah ke arah 25 derajat dari barat ke barat laut, sehingga tak perlu diubah lagi arahnya. Masjid-masjid yang arahnya belum tepat bisa disempurnakan dengan cara melihat matahari dan bayangannya sekitar 28 atau 29 Mei pukul 16.18 WIB dan sekitar 15 atau 16 Juli pada pukul 16.27 WIB. Untuk menyempurnakan arah kiblat cukup dengan mengubah arah saf.

    Toleransi akurasi pengukuran arah kiblat, dari perhitungan LAPAN berdasarkan garis pada qiblalocator.com, penyimpangan arah kiblat bangunan perluasan di Masjid Nabawi sekitar 4 derajat. Menurut Thomas, jika melihat Masjid Nabawi dari sisi timur bilik Rasulullah (yang sekarang menjadi makam Rasulullah) arah kiblatnya sangat tepat.

    Namun, Thomas mengakui definisi akurasi ini memang relatif bergantung rujukan yang digunakan.

    Setidaknya ada dua akurasi yang bisa dijadikan patokan, yakni dari segi akurasi matematis adalah 0,5 skala terkecil alat ukurnya. Lalu akurasi praktis sepanjang penyimpangannya tidak tampak pada barisan saf jemaah atau sikap tubuh.

    "Untuk masjid baru yang sedang dibangun sangat disarankan untuk menggunakan definisi akurasi matematis. Untuk mengevaluasi masjid lama dan memutuskan toleransi penyimpangan, saya sarankan gunakan definisi akurasi praktis agar tidak menyulitkan umat," ujar Thomas.

    Kementerian Agama pun telah menganjurkan masjid-masjid di Indonesia untuk menyesuaikan arah kiblat. Imbauan ini, menurut Inspektur Jenderal Kementerian Agama M Jasin, pernah dicetuskan pada dua tahun lalu.

    "Masjid-masjid kami anjurkan untuk menyesuaikan sendiri kiblatnya. Bagi yang belum pernah menyesuaikan dua tahun lalu tinggal menyesuaikan ulang saja," kata Jasin.

    Menurut Jasin, sebagian besar masjid di Indonesia sebenarnya telah melakukan penyesuaian kurang lebih dua tahun yang lalu. "Termasuk tentunya di Jakarta, Masjid Istiqlal," kata dia.

    AISHA SHAIDRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.