Dilarang, Pengungsi Rohingya Tetap Minum Bersoda  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang relawan mencukur rambut anak suku Rohingya yang ikut orang tuanya mengungsi di Kuala Langsa, Aceh, 18 Mei 2015. Ribuan etnis Rohingya, termasuk anak-anak, meninggalkan negraranya karena alasan keamanan. REUTERS/Beawiharta

    Seorang relawan mencukur rambut anak suku Rohingya yang ikut orang tuanya mengungsi di Kuala Langsa, Aceh, 18 Mei 2015. Ribuan etnis Rohingya, termasuk anak-anak, meninggalkan negraranya karena alasan keamanan. REUTERS/Beawiharta

    TEMPO.CO, Aceh Timur - Masih pukul tujuh pagi di Posko Pengungsi Rohingya dan Bangladesh di Desa Bayeun, Rantau Selamat, Aceh Timur. Yeni Ginting, petugas puskesmas Rantau Selamat, sudah sibuk sejak pagi, Kamis, 28 Mei 2015, di klinik posko.

    Klinik tersebut berada di sebuah gedung pada bagian kanan posko. Posko itu sendiri didirikan di atas area bekas pabrik kertas di pinggir jalan lintas Banda Aceh-Medan, sekitar 20 menit dari Langsa. Sebagian besar gedung bekas pabrik sudah tak terlihat. Hanya tersisa dua bangunan yang diperuntukkan bagi pengungsi perempuan dan anak-anak. Para pria ditempatkan di tenda-tenda jingga.

    Ada saja pengungsi yang mendatangi klinik dengan berbagai keluhan. Karena tak bisa berbahasa Indonesia maupun Inggris, para pengungsi hanya dapat menunjuk kepala, tenggorokan, atau perut untuk memberi tahu Yeni bagian tubuh mana yang sakit. Perempuan berjilbab itu menanggapi keluhan mereka dengan tenang. "Nam? Umur?" tanya Yeni pada setiap yang datang. Pasiennya akan menunjukkan gelang di tangan kiri yang telah ditulisi identitas mereka.

    Dalam sekejap, Yeni dapat menentukan obat untuk mereka. "Penyakit mereka rata-rata sama: asam lambung, diare, atau gangguan kulit."

    Wajar saja kelompok itu menderita berbagai penyakit. Sebab, mereka telah menghabiskan puluhan hari di tengah lautan tanpa asupan makanan yang memadai. Walau begitu, Yeni mengeluhkan keadaan mereka tak kunjung membaik setelah berada di posko. Gara-garanya, para pengungsi itu suka sekali mengkonsumsi minuman soda yang disumbangkan untuk mereka.

    "Makannya sih cukup bergizi, nasi, telur, sayur. Tapi minumnya pasti Coca-Cola atau Fanta, mana bisa sembuh," ujar Yeni.

    Memang di sana-sini di area posko, banyak terlihat botol-botol plastik bekas minuman soda. Saat bermain, anak-anak terlihat menenggak minuman berkarbornasi alih-alih air putih atau susu.

    Yeni dengan gemas menasehati setiap pasien yang datang. "Jangan minum itu lagi ya," kata dia sambil menunjuk-nunjuk botol minuman soda dan memeragakan gaya meminum agar pesannya dimengerti.

    Pasien yang datang biasanya mengangguk-angguk, memahami perkataan Yeni. Keluar klinik, mereka kembali menyambar minuman dari kardus-kardus yang masih menumpuk.

    MOYANG KASIH DEWIMERDEKA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Minta Lion Air dan Citilink Turunkan Harga Tiket LCC

    Pemerintah telah memerintahkan dua maskapai penerbangan domestik, Lion Air dan Citilink, untuk menurunkan harga tiket pesawat berbiaya murah.