Tumpas Mafia Air, TNI-Polisi Kawal Pengucuran Irigasi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang petani menunjukkan saluran irigasi yang tercemar limbah industri tekstil dari Sungai Cikijing, Rancaekek, Bandung, 22 Februari 2015. Pembuangan limbah industri di Rancaekek dan Cimanggung, Sumedang, telah mencemari aliran Sungai termasuk sumur warga, sawah, dan saluran irigasi. TEMPO/Prima Mulia

    Seorang petani menunjukkan saluran irigasi yang tercemar limbah industri tekstil dari Sungai Cikijing, Rancaekek, Bandung, 22 Februari 2015. Pembuangan limbah industri di Rancaekek dan Cimanggung, Sumedang, telah mencemari aliran Sungai termasuk sumur warga, sawah, dan saluran irigasi. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.COBandung – Penggelontoran air di saluran irigasi menuju area pertanian akan dikawal ketat oleh aparat TNI dan kepolisian. Mafia air pun akan ditindak tegas.

    Hal tersebut diungkapkan Komandan Kodim 0616 Indramayu Letkol Zaenudin, Kamis, 28 Mei 2015. “Mafia air jangan main-main karena akan berhadapan dengan TNI,” kata Zaenudin di sela-sela pelaksanaan rapat koordinasi Upaya Khusus Percepatan Swadaya Pangan dan Antisipasi Kekeringan Musim Gadu 2015 di aula Kodim Indramayu.

    Zaenudin menjelaskan, jika pihaknya menemukan adanya bukti tindak pidana kekerasan, pelaku akan ditangkap dan diproses sesuai dengan aturan hukum yang ada. “Jangan sampai ada benturan di lapangan (akibat air),” ujarnya.

    Seperti diketahui, saat ini debit air yang mengalir di saluran irigasi dari Bendung Rentang di Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, dan dari Waduk Jatiluhur, Purwakarta, terus menurun. Akibatnya, air yang mengalir di saluran irigasi semakin minim, sehingga rebutan air pun sering terjadi. Akibatnya, petani yang area pertaniannya ada di ujung irigasi sering kali tidak kebagian air.

    Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Indramayu Firman Muntako mengaku pihaknya sudah meminta tambahan pasokan air, baik dari Bendung Rentang maupun Waduk Jatiluhur. “Untuk yang berada di ujung irigasi, seperti di Kecamatan Kandanghaur dan Losarang, akan diprioritaskan untuk mendapatkan pasokan air selama tiga hari mendatang,” ucapnya. Ini karena daerah-daerah tersebut, menurut Firman, sangat membutuhkan pasokan air.

    Berdasarkan data Dinas Pertanian Indramayu hingga 28 Mei 2015, ada 4.786 hektare tanaman padi yang terancam kekeringan, yang tersebar di Kecamatan Gantar seluas 350 hektare, Kecamatan Kroya 750 hektare, Kecamatan Gabuswetan 2.100 hektare, dan Kecamatan Cikedung 115 hektare. Selain itu, Kecamatan Terisi 254 hektare, Cantigi 285 hektare, Losarang 483 hektare, dan Kandanghaur 449 hektare.

    Namun, ucap Firman, target tanam pada musim tanam gadu seluas 110.270 hektare. Dari jumlah itu, realisasi tanam mulai April hingga 28 Mei 2015 mencapai 54.386 hektare. Karena itu, area tanaman padi yang kini terancam kekeringan masih relatif rendah, yaitu hanya 10 persen dari realisasi tanam saat ini. Melihat kondisi itu, Firman mengaku optimis jika ancaman kekeringan tidak akan mengganggu produksi padi di Kabupaten Indramayu, dengan target produksi padi pada musim tanam gadu 2015 sekitar 800 ribu ton gabah kering panen (GKP).

    Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi Dinas PSDA Tamben Kabupaten Indramayu Karto menutrkan debit air dari Bendung Rentang di Kabupaten Indramayu saat ini semakin merosot. “Debitnya saat ini bahkan sudah di bawah 60 persen,” katanya. 

    IVANSYAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gerhana Bulan Parsial Umbra Terakhir 2019

    Pada Rabu dini hari, 17 Juli 2019, bakal terjadi gerhana bulan sebagian. Peristiwa itu akan menjadi gerhana umbra jadi yang terakhir di tahun 2019.