Beri Kuliah Umum, Megawati Ajarkan Filosofi Makan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Megawati Soekarnoputri memberikan pidato kebudayaan dalam seminar internasional arsip Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non Blok, di Arsip Nasional Republik Indonesia, Jakarta, 26 Mei 2015. Mega mengatakan semangat Dasa Sila Bandung menjadi basis kekuatan moral bangsa-bangsa untuk merdeka.                       TEMPO/Imam Sukamto

    Megawati Soekarnoputri memberikan pidato kebudayaan dalam seminar internasional arsip Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non Blok, di Arsip Nasional Republik Indonesia, Jakarta, 26 Mei 2015. Mega mengatakan semangat Dasa Sila Bandung menjadi basis kekuatan moral bangsa-bangsa untuk merdeka. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.COJakarta - Presiden Republik Indonesia kelima, Megawati Soekarnoputri, memberikan kuliah umum di Lembaga Ketahanan Nasional. Megawati memberikan kuliah lebih dari dua jam di hadapan ribuan peserta yang terdiri atas siswa dan alumnus Lemhanas. Dalam kuliahnya, Megawati mengajarkan filosofi cara makan masyarakat Indonesia dan bangsa lain. 

    "Cara makan masyarakat Indonesia berbeda dengan bangsa lain," kata Megawati di gedung Lemhanas, Jakarta, Kamis, 28 Mei 2015.

    Masyarakat Indonesia, ujar Megawati, sejak dulu terbiasa makan menggunakan tangan kosong. Sedangkan bangsa Asia Timur, seperti Jepang, Cina, dan Korea, terbiasa makan dengan sumpit. 

    Menurut Megawati, tata cara makan tersebut berpengaruh pada mental manusianya. Tanpa maksud untuk menyindir, Megawati mengambil contoh bangsa Cina, Jepang, dan Korea yang makan dengan sumpit dan mangkuk kecil. Menurut dia, penggunaan sumpit membuat mereka tak leluasa mengambil makanan. "Pasti nasi dan lauk yang diambil sedikit sekali sumpit," ujar Mega.

    Penggunaan mangkuk berukuran kecil juga membuat bangsa Asia Timur makan secara perlahan. Mereka mengambil nasi dan lauk dalam jumlah secukupnya karena terbatas pada ukuran mangkuk. Walhasil, tata cara makan mereka lebih tertib dan secukupnya.

    Berbeda dengan masyarakat Indonesia yang sering menggunakan “tangan kosong” ketika makan. Cara ini, menurut Megawati, membuat masyarakat Indonesia bebas mengambil makanan dengan ukuran yang besar sekali pun.

    Megawati memberikan contoh, banyak bapak-bapak yang sepulang kerja langsung makan sembari mengambil lauk sebanyak mungkin. Hal itu sampai membuat kaum ibu sering mengingatkan suaminya untuk tak menghabiskan makanan. "Banyak ibu rumah tangga yang ingatkan suami kalau anak-anak mereka belum makan," tutur Mega, yang disambut tawa peserta kuliah umum.

    INDRA WIJAYA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.