Megawati Ingin Ibu Kota Pindah ke Palangkaraya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden RI kelima Megawati Soekarnoputri, memberikan pidato kebudayaan dalam seminar internasional arsip Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non Blok, di Arsip Nasional Republik Indonesia, Jakarta, 26 Mei 2015. Megawati berharap dokumen KAA dan Gerakan Non Blok bisa diterima UNESCO sebagai dokumen Memory of World. TEMPO/Imam Sukamto

    Presiden RI kelima Megawati Soekarnoputri, memberikan pidato kebudayaan dalam seminar internasional arsip Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non Blok, di Arsip Nasional Republik Indonesia, Jakarta, 26 Mei 2015. Megawati berharap dokumen KAA dan Gerakan Non Blok bisa diterima UNESCO sebagai dokumen Memory of World. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Republik Indonesia kelima yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, memberikan kuliah umum di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas), Jakarta. Megawati memberikan kuliah lebih dari dua jam di hadapan ribuan peserta yang terdiri dari siswa dan alumnus Lemhanas.

    Dalam ceramahnya, Megawati sempat mengatakan pendapatnya tentang wacana pemindahan ibu kota Indonesia dari Jakarta ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah. "Kalau Gubernur Teras Narang dengar pasti senang," kata Mega di gedung Lemhanas, Jakarta, Kamis, 28 Mei 2015.

    Pernyataan Mega itu dimulai ketika dia bercerita tentang niat Presiden Joko Widodo dan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama membangun giant sea wall di laut utara Jakarta. Menurut Mega rencana tersebut bukan menjadi solusi yang aman.

    Mega mengambil contoh dinding penahan ombak serupa di Jepang yang tetap jebol ketika tsunami menghantam pada 2011. "Terlebih Jakarta lebih rendah dari air laut, risikonya semakin besar jika terjadi bencana tsunami atau banjir rob," kata Mega.

    Mega lalu teringat dengan sang ayah, Sukarno, yang pernah berencana memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Palangkaraya. Menurut Megawati alasan Bung Karno ketika itu adalah Pulau Kalimantan dianggap lebih aman dari bencana alam. Salah satunya adalah terbebas dari gempa bumi, lantaran Kalimantan tak masuk dalam 'cincin api'.

    INDRA WIJAYA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Diduga Ada Enam Perkara Di Balik Teror Terhadap Novel Baswedan

    Tim gabungan kepolisian menyebutkan enam perkara yang ditengarai menjadi motif teror terhadap Penyidik KPK Novel Baswedan.