Cerita Pengungsi Rohingya: Dibantai, Ditembak, dan Dibakar?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pria etnis Rohingya mencukur rambut mereka di luar kamp pengungsi di Sittwe, Myanmar, 21 Mei 2015. Mereka mengatakan beberapa pengungsi sempat diperdagangkan sebelum angkatan laut Myanmar menemukan mereka. REUTERS/Soe Zeya Tun

    Sejumlah pria etnis Rohingya mencukur rambut mereka di luar kamp pengungsi di Sittwe, Myanmar, 21 Mei 2015. Mereka mengatakan beberapa pengungsi sempat diperdagangkan sebelum angkatan laut Myanmar menemukan mereka. REUTERS/Soe Zeya Tun

    TEMPO.CO, Makassar - Pengungsi Rohingya di Kota Makassar menceritakan bagaimana kisah mereka selama hidup di Myanmar sehingga harus bertaruh nyawa mengungsi ke Indonesia. “Kesalahan kami di Myanmar adalah karena kami beragama Islam,” kata Mohammad Toyub, pengungsi Rohingya di Makassar, Kamis, 28 Mei 2015.

    Toyub mengatakan pemerintah Myanmar tidak mau ada orang Islam. Bahkan rakyat Myanmar non-muslim juga ikut membantu pemerintah membantai orang Islam: ditembak dan dibakar. “Targetnya bagaimana menghabiskan orang Islam. Padahal orang Islam Rohingya adalah penduduk asli di sana,” kata Toyub.

    Menurut Toyub, agama Islam tidak bebas berkembang di Myanmar. Masjid dibongkar dan dibakar. Tidak bisa azan. Untuk berusaha juga tidak bisa. Setiap ada umat Islam yang pergi ke pasar, harta mereka akan dirampas. Jika tidak mau memberikan harta, umat Islam akan ditembak. “Jadi bagaimana kami mau hidup,” kata Toyub.

    Untuk sampai ke Makassar pada 2012, Toyub menambahkan, pengungsi masuk ke Indonesia melalui Malaysia dengan kapal laut. Dari Malaysia pengungsi menuju ke Medan. Mereka kemudian menyebar ke berbagai daerah di Indonesia.

    “Rencana mau ke Australia cari suaka. Tapi selama 3 tahun menunggu beum ada kepastian apakah Rohingya bisa masuk ke Australia,” kata Toyub.

    Selama di Makassar, pengungsi Rohingya mengaku tidak banyak kegiatan karena dilarang bekerja. “Kegiatan kami hanya beribadah, makan, dan minum. Itu saja,” kata Toyub.

    Sekitar 200 pengungsi Rohingya berada di Kota Makassar. Kelompok etnis minoritas dari Myanmar itu mulai tinggal di Kota Makassar pada 2011. Mereka tidak bersamaan tiba di daerah ini, melainkan bertahap. Mereka mengaku hanya sementara menetap di Indonesia lantaran berharap segera dibawa ke negara tujuan mereka.

    Selama ini, pemerintah Myanmar menganggap masalah pengungsi Rohingya yang mengungsi ke Indonesia, Thailand, dan Malaysia merupakan persoalan perdagangan manusia. Pemerintah Myanmar menolak disalahkan atas kasus pengungsi Rohingya.

    Menurut pemerintah Myanmar, tidak ada bukti bahwa pengungsi Rohingya adalah warga asli Myanmar. Myanmar menganggap mereka sebagai imigran ilegal dari Bangladesh dengan sebutan Bengalis. Padahal, suku Rohingya sudah ada di Myanmar selama beberapa generasi.

    MUHAMMAD YUNUS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Para Pencari Suaka Afganistan dan Data Sejak 2008

    Para pencari suaka Afganistan telantar di depan Kementerian BUMN di Jakarta pada Juli 2019. Sejak 2008, ada puluhan ribu pencari suaka di Indonesia.