Bagir Manan: Pers Kuat jika Kuasai 4 Hal  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Dewan Pers, Bagir Manan, di Gedung Dewan Pers, Jakarta, 5 Maret 2015. TEMPO/Imam Sukamto

    Ketua Dewan Pers, Bagir Manan, di Gedung Dewan Pers, Jakarta, 5 Maret 2015. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.COBanda Aceh - Perkembangan teknologi informasi yang pesat harus menjadi perhatian insan pers untuk terus belajar menjadi intelektual tangguh. “Tak sekadar profesional di dunia jurnalistik,” kata Prof Dr Bagir Manan, Ketua Dewan Pers, di Banda Aceh, Rabu, 27 Mei 2015.

    Hal itu disampaikan Bagir dalam Pelatihan Jurnalistik bertema “Peliputan Khusus Korupsi" kepada 50 wartawan berbagai media di Banda Aceh. Menurut Bagir, pada masa sekarang, pers akan kuat kalau menguasai empat hal.

    Pertama, ujar Bagir, tentunya berkaitan dengan keterampilan jurnalistik dan prinsip-prinsip profesionalisme pers, termasuk kode etik. Juga menjalankan aturan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

    Kedua, akibat ilmu pengetahuan dan teknologi, pers tidak lagi hanya sebagai obyek keterampilan dan profesionalisme. “Tapi juga obyek ilmu sebagai ilmu komunikasi dan jurnalisme sebagai teknologi. Setiap insan pers harus terus belajar dalam perkembangan ilmu dan teknologi pers,” tutur mantan Ketua Mahkamah Agung itu.

    Ketiga, wartawan harus punya pengetahuan yang cukup tentang obyek yang ingin disampaikannya. Sebab, yang ingin diberitakan adalah berkenaan dengan obyek tertentu, misalnya tentang pertanian atau pengadilan. “Meliput pengadilan, harus tahu seluk-beluk pengadilan, perbedaan istilahnya, dan lainnya.”

    Dan yang terakhir, tutur Bagir, wartawan harus paham seluk-beluk manajemen dan organisasi. “Karena tidak ada kegiatan pers yang tidak punya manajemen dan organisasi,” ucap Bagir.

    Selain menampilkan Bagir Manan, pelatihan untuk kalangan wartawan tersebut menghadirkan pemateri anggota Dewan Pers lain, yakni Imam Wahyudi dan M. Ridlo Eisy. Kemudian juga ada aktivis dari ICW, Adnan Topan Husodo.

    Imam Wahyudi, dalam paparannya, menyatakab menulis kasus korupsi juga sama dengan menulis laporan lain. “Selalu berpatokan kepada kebenaran dan kode etik.”

    Menurut Imam, pengaduan terkait dengan pemberitaan media ke Dewan Pers umumnya didominasi berita tak berimbang dan opini menghakimi. Sesuai dengan laporan pengaduan, hal ini banyak dilakukan oleh media online, mungkin dengan alasan mengejar waktu tayang. 

    ADI WARSIDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Instagram Uji Coba Menghilangan Fitur Likes agar Fokus ke Konten

    Instagram tengah lakukan uji coba penghapusan fitur likes di beberapa negara pada Juli 2019. Reaksi pengguna terbelah, sebagian merasa dirugikan.