Ini Sebab Penembakan di Papua Terus Terulang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang warga Papua melakukan aksi protes di depan pagar lingkungan Istana Kepresidenan, Komplek Istana Presiden, Jakarta,  15 Mei 2015. Aksi ini digelar untuk menuntut realisasi janji Presiden Jokowi untuk mensejahterakaan rakyat Papua secara adil dan merata. TEMPO/Subekti.

    Seorang warga Papua melakukan aksi protes di depan pagar lingkungan Istana Kepresidenan, Komplek Istana Presiden, Jakarta, 15 Mei 2015. Aksi ini digelar untuk menuntut realisasi janji Presiden Jokowi untuk mensejahterakaan rakyat Papua secara adil dan merata. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia mengatakan kekerasan yang terus berulang di Papua disebabkan oleh munculnya rasa ketidakadilan. Tak cukup dengan membebaskan tahanan politik untuk meredam konflik di sana.

    "Itu kan ekor masalah saja, akar masalahnya ketimpangan dalam bidang politik dan sosial," kata Ketua Komnas HAM Hafidz Abbas, saat dihubungi, Rabu, 27 Mei 2015. Apa yang dirasakan dan dirumuskan di  Jakarta, kata Hafidz, sering kali tak dirasakan di daerah, khususnya Papua. 

    Kondisi seperti ini, jika terus dibiarkan, akan semakin membuat warga Papua membenci pemerintah pusat.

    Kelompok bersenjata di Papua kembali melakukan penyerangan. Mereka menembaki salah satu rumah di Kampung Usir, Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua. Akibat penyerangan itu, seorang penghuni rumah tewas dan lima lainnya mengalami luka serius akibat tertembus timah panas penyerang.

    Komnas HAM, menurut Hafidz, akan menyelidiki kasus tersebut. Beberapa kasus di Papua, kata dia, sudah direkomendasikan agar dibawa ke pengadilan HAM berat. Salah satunya adalah kasus Paniai.

    Namun penyelesaian pelanggaran HAM berat di Papua bukan tanpa halangan. Dalam beberapa kasus, Hafidz mengatakan berkas yang sudah diserahkan kepada Kejaksaan sering kali dikembalikan. Alasannya, berkas dianggap masih kurang memenuhi syarat.

    Hafidz berharap adanya presiden baru mampu memunculkan cara baru dalam penyelesaian pelanggaran HAM. "Seperti di Nawa Cita, penyelesaiannya mulai mengarah kepada non-yudisial."

    Hafidz mengatakan kasus pelanggaran HAM di Papua umumnya digolongkan menjadi dua tipe, yaitu recurrent dan kontemporer. Recurrent adalah kasus yang berulang, seperti penembakan. Adapun kasus kontemporer misalnya upaya pemisahan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    FAIZ NASHRILLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Diduga Ada Enam Perkara Di Balik Teror Terhadap Novel Baswedan

    Tim gabungan kepolisian menyebutkan enam perkara yang ditengarai menjadi motif teror terhadap Penyidik KPK Novel Baswedan.