Nasib Tragis Gandis: Ditolak Kampus Elite, Ditinggal Mati Ibu

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pembunuhan. (tabloidjubi)

    Ilustrasi pembunuhan. (tabloidjubi)

    TEMPO.CO, Lumajang - Sial betul Fairli Gandis. Belum habis rasa kecewa tak lolos masuk Universitas Jember melalui jalur prestasi, gadis berusia 17 tahun ini harus menerima kabar buruk dari Kairo, Mesir. Sang ibu, Winarti binti Musiar, meninggal karena dibunuh oleh dua orang warga negara setempat, Ahad, 23 Mei lalu.

    "Fairli baru lulus sekolah SMA,” kata Widayani, bibi Gandis, kepada Tempo di rumah duka Dusun Krajan, Desa Kebonsari, Kecamatan Yosowilangun, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Rabu, 27 Mei 2015.

    Winarti merupakan janda berusia 45 tahun. Anaknya Fairli berusia 17 tahun. Demi kehidupan lebih baik bagi Fairli, Winarti merantau sampai Kairo, Mesir, sebagai tenaga kerja Indonesia. Belakangan Winarti ditemukan tewas dalam kamar di rumah majikannya di Kairo, Mesir.

    Sebelum meninggal, Winarti berkali-kali, bahkan setiap hari, menelepon keluarganya. Satu hal yang kerap ditanyakan adalah kondisi anak tunggalnya itu. Menurut Widayani, Winarti khawatir dengan pendidikan anak tersebut. “Winarti khawatir anaknya frustrasi," kata Widayani.

    Semula Fairli berencana meneruskan pendidikan kuliah di Universitas Jember--salah satu kampus elite di Jawa Timur--melalui jalur prestasi. Tapi ia tak lolos. Winarti tahu anaknya tak lolos jalur rapor. Karena itu, dia kerap meneleponnya. Meski gagal masuk dari jalur prestasi, putri hasil perkawinan Widayanti dan Joko, warga Kabupaten Tulungagung, ini tak mau menyerah.

    Sebelum mendengar kabar ibunya meninggal, lulusan SMA Yosowilangun ini berencana mengikuti tes ujian masuk perguruan tinggi pada bulan depan di Universitas Jember. Tapi setelah tahu ibunya menjadi korban pembunuhan, Fairli belum mengungkapkan sikapnya lagi.

    DAVID PRIYASIDHARTA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Utang BUMN Sektor Industri Melonjak, Waskita Karya Paling Besar

    Sejumlah badan usaha milik negara di sektor konstruksi mencatatkan pertumbuhan utang yang signifikan. Waskita Karya menanggung utang paling besar.