Ikan Nusakambangan Tercemar Minyak Mentah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sekitar 35 nelayan Cilacap memblokir pintu masuk dermaga bongkar muat kapal tanker Kilang Pertamina Cilacap, Rabu (25/4). Pemblokiran dilakukan karena pasokan solar bersubsidi untuk nelayan sudah habis sehingga mereka tak bisa melaut selama empat hari terakhir ini. TEMPO/Aris Andrianto

    Sekitar 35 nelayan Cilacap memblokir pintu masuk dermaga bongkar muat kapal tanker Kilang Pertamina Cilacap, Rabu (25/4). Pemblokiran dilakukan karena pasokan solar bersubsidi untuk nelayan sudah habis sehingga mereka tak bisa melaut selama empat hari terakhir ini. TEMPO/Aris Andrianto

    TEMPO.COCilacap - Insiden tumpahnya minyak mentah yang terjadi sejak Rabu malam, 20 Mei 2015, di fasilitas bongkar-muat lepas pantai atau single point mooring, sebelah selatan Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, belum terselesaikan. Minyak yang mentah malah mulai mencapai daratan. Bahkan kondisi permukaan Area 70 di Pantai Teluk Penyu menghitam pekat.

    Akibat tumpahan minyak mentah, nelayan terpaksa tidak melaut karena ikan-ikan mati. Menurut pelaksana tugas Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cilacap, Indon Cahyono, organisasinya mendapat laporan dari Pantai Adipala bahwa para nelayan mendapati ikan mati berlumuran minyak di jaring mereka saat mencari ikan di area pantai. “Nelayan di Cilacap menemukan ikan yang tercemar minyak mentah,” kata Indon, Rabu, 27 Mei 2015.

    Indon mengatakan nelayan berencana meminta ganti rugi kepada PT Pertamina. Hingga saat ini belum ada kepastian ihwal kompensasi yang akan diberikan kepada nelayan yang tidak melaut. “Ganti rugi yang akan diajukan para nelayan sebesar Rp 100 ribu per hari, selama dua pekan,” katanya. 

    Adapun nelayan yang harus diberi ganti rugi berjumlah 17 ribu. “HNSI juga meminta Pertamina segera melakukan pembersihan minyak mentah di perairan Cilacap.” 

    Sementara itu, Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Cilacap Adjar Mugiono mendesak Pertamina segera membersihkan minyak yang mencemari perairan selatan Cilacap. Menurut dia, bila Pertamina tak segera melakukan pembersihan, lingkungan akan terkena dampak buruk. “Jika waktu pembersihan lama, akan mematikan biota laut. Karena itu, memang harus secepatnya dibersihkan,” katanya.

    General Affair PT Pertamina Refinery Unit IV Cilacap Eko Hernanto mengatakan Pertamina terus melakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah ceceran minyak yang tumpah. Menurut dia, sejak terjadi kebocoran pada terminal apung yang digunakan untuk menerima kapal tangker besar dari Timur Tengah, pihaknya telah melakukan penyisiran hingga ke arah perairan selatan Pantai Widarapayung.

    “Kebocoran disebabkan oleh gelombang tinggi pada saat proses bongkar-muat minyak dari kapal ke pipa bawah laut,” ujar Eko Hernanto. Total minyak mentah yang terbuang ke laut kurang-lebih 14 ribu liter. 

    Adapun ihwal tuntutan kompensasi nelayan, Eko mengatakan Pertamina masih berdiskusi dengan HNSI. Pertamina akan memberikan kompensasi kepada warga yang ikut membersihkan minyak di pantai.

    ARIS ANDRIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia Memberangkatkan 529 Kloter pada Musim Haji 2019

    Pada musim haji 2019, Indonesia memberangkatkan 529 kelompok terbang, populer disebut kloter, yang akan dibagi dalam dua gelombang.