Lumpur Lapindo Usik Buaya di Sungai Porong?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Buaya muara (crocodillus porosus). ANTARA/Dedhez Anggara

    Buaya muara (crocodillus porosus). ANTARA/Dedhez Anggara

    TEMPO.CO, Sidoarjo - Sejumlah buaya dilaporkan muncul ke permukaan di aliran Sungai Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Polisi mengimbau setiap kepala desa menenangkan warganya sembari pihaknya menyelidiki kemunculan tiga-empat ekor buaya itu.

    "Kami sudah terima laporan adanya buaya di Dusun Awar-Awar Desa Tambakrejo," kata Kepala Kepolisian Resor Sidoarjo Ajun Komisaris Besar Anggoro Sukartono, Selasa, 26 Mei 2015.

    Dengan adanya laporan tersebut maka polisi mengimbau kepada kepala desa untuk meneruskan imbauan kepada setiap warganya agar berhati-hati ketika mendekati aliran Sungai Porong. "Tapi munculnya buaya itu belum meresahkan warga karena memang masih jauh dari pemukiman," ujar Anggoro.

    Direktur Ecoton Prigi Arisandi menjelaskan bahwa munculnya buaya-buaya itu adalah peristiwa biasa. Sungai Porong di Dusun Awar-Awar, menurutnya, merupakan habitat buaya. "Karena daerah itu juga merupakan rawa-rawa," ujar dia.

    Prigi menjelaskan, kemunculan buaya bisa saja diakibatkan adanya proses migrasi dari muara Sungai Porong. Selain itu, munculnya buaya di tempat tersebut juga bisa karena ekosistemnya di muara sungai terganggu karena adanya beberapa zat berbahaya. "Karena penciuman buaya paling sensitif terhadap sulfur," kata Prigi.

    Sementara itu, juru bicara Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS), Dwinanto Hesty Prasetyo, membantah munculnya buaya tersebut karena banyaknya endapan lumpur Lapindo yang dibuang di muara Sungai Porong.

    Menurutnya hal tersebut tidak ada hubungannya dengan Lumpur Lapindo. "Itu (kemunculan buaya) bukan fenomena baru," katanya.

    EDWIN FAJERIAL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Enam Poin dalam Visi Indonesia, Jokowi tak Sebut HAM dan Hukum

    Presiden terpilih Joko Widodo menyampaikan sejumlah poin Visi Indonesia di SICC, 14 Juli 2019. Namun isi pidato itu tak menyebut soal hukum dan HAM.