Hasyim Muzadi: Di Dunia, Tak Ada Pejabat Suka KPK  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota Wantimpres, Ahmad Hasyim Muzadi. TEMPO/Subekti.

    Anggota Wantimpres, Ahmad Hasyim Muzadi. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.COSurabaya - Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Hasyim Muzadi, meminta masyarakat mendukung kerja panitia seleksi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi. Sembilan orang anggota panitia seleksi yang terpilih itu diharapkan membawa angin segar bagi pemberantasan korupsi di Indonesia.

    "Sesungguhnya di dunia ini tidak ada pejabat yang suka kepada KPK," kata mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini kepada wartawan seusai Seminar Kebangsaan di ITS Surabaya, Senin, 25 Mei 2015.

    Hasyim tak mempersoalkan panitia seleksi yang semuanya perempuan. Ia justru mengingatkan bahwa pansel harus selektif karena beratnya hambatan dalam pemberantasan korupsi di Indonesia. "Enggak mungkinlah ada pejabat yang suka korupsinya diawasi. Apalagi Indonesia yang korupsinya sudah masya Allah luar biasa," ujarnya.

    Selain menghadapi banyaknya kasus korupsi yang belum tertangani, pimpinan KPK kelak dihadapkan pada pengajuan praperadilan dari para tersangka korupsi. "Jadi tiga orang yang berantas korupsi, ya, belum tentu menang menghadapi ribuan koruptor."

    Meski begitu, Hasyim mengatakan pimpinan KPK tak perlu gentar. "Semuanya tetap diupayakan. Saya, kan, juga pernah jadi pansel Mahkamah Konstitusi sama Buya Syafii. Kan, hasilnya bisa dilihat," dia menuturkan. 

    Jumat lalu, Presiden Joko Widodo mengumumkan sembilan nama anggota panitia seleksi KPK. Sembilan nama itu semuanya perempuan dari berbagai latar belakang. Dari ahli hukum, teknologi informasi, keuangan, psikologi, sosiologi, manajemen organisasi, hingga tata kelola pemerintahan.

    ARTIKA RACHMI FARMITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Instagram Uji Coba Menghilangan Fitur Likes agar Fokus ke Konten

    Instagram tengah lakukan uji coba penghapusan fitur likes di beberapa negara pada Juli 2019. Reaksi pengguna terbelah, sebagian merasa dirugikan.