Ibunda Angeline Histeris Saat Didatangi Komnas Anak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua KPAI, Arist Merdeka Sirait mengunjungi PP(5 tahun), pasien yang mengalami luka meradang pada kedua lengannya di RS Hasan Sadikin, Bandung (1/5). Kedua tangan PP diamputasi akibat terserang bakteri ganas Pseudomonas Aeruginosa. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    Ketua KPAI, Arist Merdeka Sirait mengunjungi PP(5 tahun), pasien yang mengalami luka meradang pada kedua lengannya di RS Hasan Sadikin, Bandung (1/5). Kedua tangan PP diamputasi akibat terserang bakteri ganas Pseudomonas Aeruginosa. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO.CO, Denpasar - Ibunda Angeline, 8 tahun, anak yang hilang di Denpasar, menjerit histeris saat didatangi Arist Merdeka Sirait dari Komnas Perlindungan Anak, Minggu malam, 24 Mei 2015.

    Margaritha nama ibu anak itu merasa tidak terima karena rumahnya dianggap tidak layak untuk ditinggali anaknya. Awalnya, Arist yang ditemani sejumlah petugas kepolisian dan puluhan wartawan diterima dengan baik oleh Margaritha.

    Kepada Arist, Margaritha mengaku tidak mempunyai informasi hilangnya Angeline.  “Saya tidak tahu di mana dia berada, kalau ada informasi langsung saya cari dan saya laporkan ke polisi.”

    Menjawab pertanyaan, dia mengatakan Angeline selalu berjalan kaki sendirian acapkali mau ke sekolah meski jaraknya cukup jauh. “Itu maunya dia, sebenarnya saya mau mengantar,” jelas Margaritha.

    Margaritha  mengaku sering mencubiti Angeline, tapi hanya kalau dirasa anak itu agak nakal. “Kalau ada yang bilang sampai teriak-teriak itu tidak benar. Itu hanya karena dia gampang ketakutan,” ujarnya lagi.

    Usai diwawancarai Arits, Margaritha kemudian diajak masuk ke dalam rumahnya yang ternyata di dalamnya dipenuhi oleh kandang ayam dan anjing. Arits juga diizinkan untuk melihat kamar pribadi tempat Angeline dan ibunya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Enam Poin dalam Visi Indonesia, Jokowi tak Sebut HAM dan Hukum

    Presiden terpilih Joko Widodo menyampaikan sejumlah poin Visi Indonesia di SICC, 14 Juli 2019. Namun isi pidato itu tak menyebut soal hukum dan HAM.