Ahli Hukum: Ade Armando Tak Nodai Agama  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ade Armando. TEMPO/Imam Sukamto

    Ade Armando. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.COJakarta - Guru besar hukum pidana di Universitas Andalas, Elwi Danil, menilai tak ada perbuatan pidana yang dilakukan Ade Armando. Elwi mengatakan seseorang bisa disebut telah melakukan tindak pidana jika telah memenuhi unsur actus reus alias tindakan dan unsur mens rea alias niatan jahat.

    "Ade Armando sudah mengklarifikasi bahwa ia tak pernah menyamakan Allah dengan manusia," kata Elwi kepada Tempo saat dihubungi, Ahad, 24 Mei 2015.

    Namun, menurut Elwi, polisi punya hak untuk menentukan apakah Ade melakukan tindak pidana atau tidak. "Kalau ada dua alat bukti permulaan cukup, bisa disidik. Tapi, jika tak yakin, ya polisi akan menyaring pelaporan itu," ucap Elwi.

    Elwi justru menyayangkan mengapa Ade langsung dilaporkan ke polisi. Padahal permasalahan yang dialami Ade bisa diselesaikan lewat komunikasi. "Kok, buru-buru dilaporkan," ujar Elwi.

    Ade dilaporkan Johan Kahn, 32 tahun. Melalui akun Twitter @CepJohan, Johan mengunggah foto surat tanda bukti yang melaporkan Ade atas perkara penistaan agama. Menurut Johan, Ade melanggar Pasal 156 A dan/atau Pasal 28 ayat 2 juncto Pasal 45 ayat 2 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

    Kepada Tempo, Ade membantah menyatakan menyamakan Allah dengan manusia. Menurut dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia itu, laporan tersebut bermula pada tulisannya di laman Facebook yang mengapresiasi pembacaan ayat suci Al-Quran dengan langgam Jawa pada perayaan Isra Mikraj di Istana Negara. Dia menuturkan pembacaan kitab suci dengan langgam Nusantara bukan hal baru. Di Indonesia, ujar dia, kegiatan keagamaan berdampingan dengan kultur.

    Ade menjelaskan, ajaran Islam menyebar di Indonesia melalui media lokal tradisional. "Allah kan bukan orang Arab. Tentu Allah senang kalau ayat-ayat-Nya dibaca dengan gaya Minang, Ambon, Cina, hip hop, atau blues," tulis Ade di Facebook.

    Itu artinya, ucap Ade, hal tersebut bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Menurut dia, hal terpenting justru terletak pada sampainya pemahaman isi Al-Quran ke umat Islam.

    MUHAMAD RIZKI | LINDA HAIRANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kasus Kartel Harga Tiket Pesawat Siap Disidangkan

    Komisi Pengawas Persaingan Usaha menduga mahalnya harga tiket pesawat disebabkan pasar oligopolistik. Citilink dan Lion Air diduga terlibat.