Depok Ambil Beras yang Diduga Mengandung Plastik dari Warga  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sulit membedakan secara kasat mata antara beras asli dengan beras plastik atau sintetis. TEMPO/Ryan Maulana

    Sulit membedakan secara kasat mata antara beras asli dengan beras plastik atau sintetis. TEMPO/Ryan Maulana

    TEMPO.COJakarta - Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Depok mengambil beras yang diduga mengandung plastik yang telah dibeli warga Cilodong, Depok, Minggu, 24 Mei 2014. 

    Kepala Seksi Perlindungan Konsumen Disperindag Kota Depok Reva Sosiawan mengatakan salah seorang warga Cilodong telah memberi sekarung beras, yang hasilnya berbeda setelah dimasak. "Jumat kemarin, sudah kami minta simpan beras tersebut dan jangan dimasak lagi sebelum diuji," ujar Reva.

    Dia menjelaskan, dari laporan warga Cilodong tersebur, beras dibeli dicurigai bermasalah. Tapi Reva belum mau memastikan ada kandungan plastik atau tidak dalam beras itu sebelum diuji. "Yang pasti, beras itu akan menjadi sampel," ucapnya.

    Sebelumnya, tutur dia, Disperindag bersama Dinas Pertanian dan Perikanan telah melakukan pengawasan di dua pasar, yaitu Pasar Cisalak dan Sukatani. Di kedua pasar tersebut, tidak ditemukan beras sintetis yang mengandung plastik, seperti ditemukan di Bekasi.

    Reva mengatakan warga tidak perlu khawatir, asal bisa membedakan beras asli dengan beras plastik. Beras mengandung plastik, ujar dia, terlihat lebih bening dan bila dibakar meleleh. "Yang penting, kalau mencurigai beras itu ada, laporkan kepada kami," tuturnya.

    Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Hermin menjelaskan, dari pengawasan pihaknya, warga khawatir beras tersebut juga beredar di Depok. "Dari pengawasan kemarin, ada warga yang lapor beras dengan merek Wayang mengandung plastik. Tapi kami sedang cek dan telusuri kebenarannya," katanya.

    IMAM HAMDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia Memberangkatkan 529 Kloter pada Musim Haji 2019

    Pada musim haji 2019, Indonesia memberangkatkan 529 kelompok terbang, populer disebut kloter, yang akan dibagi dalam dua gelombang.