Sawit Watch Minta Polisi Ungkap Kasus Penusukan Jopi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jopi Peranginangin. facebook.com

    Jopi Peranginangin. facebook.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Sawit Watch Jefri Saragih meminta kepolisian  mengungkap kasus penusukan terhadap salah satu aktivis organisasinya, yaitu Jopi Peranginangin, 39 tahun. "Penegakan hukum harus dilakukan," katanya kepada Tempo, Minggu, 24 Mei 2015.

    Menurut Jefri, kejadian yang menimpa Jopi kini dapat dikategorikan sebagai pembunuhan. "Ini memang pembunuhan. Karena itu, harus dibuka dengan terang siapa pelakunya," kata Jefri.

    Ihwal dugaan bahwa kejadian ini berkaitan dengan aktivitas Jopi sebagai aktivis di sejumlah lembaga, Jefri mengatakan tak bisa berspekulasi. "Hal tersebut kami serahkan kepada kepolisian untuk mengungkapnya," ujar Jefri.

    Selain itu, Jefri berharap kepolisian dapat menindaklanjuti kejadian kekerasan yang kerap terjadi di klub malam. Misalnya ada sekelompok orang yang berkelahi hingga saling melukai. "Ini harus ditemukan caranya untuk dihentikan," katanya.

    Jopi sempat terlibat percekcokan dengan sekelompok orang yang sesama pengunjung Venue Cafe di Kemang. Aktivis Sawit Watch itu kemudian ditusuk seseorang yang sempat berteriak mengaku sebagai tentara yang diduga menggunakan bayonet. Jopi akhirnya meninggal di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta, pada Sabtu, 23 Mei 2015, pukul 06.00.  

    Jenazah Jopi diotopsi di RS Polri Kramat Jati sebelum akhirnya disemayamkan di Rumah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Di markas organisasi masyarakat adat ini Jopi aktif berkegiatan. Hari ini jenazah Jopi dipulangkan ke Kisaran, Sumatera Utara.

    Dalam kaitan dengan kasus ini, kepolisian masih melakukan penyelidikan. Ada empat saksi yang sudah diperiksa, yaitu dua rekan Jopi dan dua petugas keamanan Venue.

    NINIS CHAIRUNNISA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.