Hadisuryo Ditunjuk Jadi Perantara Konflik Keraton Yogya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sri Sultan HB X bersama dengan GKR Hemas duduk lesehan, memberikan audiensi dan penjelasan isi dari Sabda Raja di ndalem Wironegaran, Suryomentaraman, Panembahan, Yogyakarta, 8 Mei 2015. Sabda Raja dan Dawuh Raja bukanlah keinginan pribadi. Dirinya hanya melaksanakan dawuh Allah lewat leluhur Keraton. TEMPO/Pius Erlangga.

    Sri Sultan HB X bersama dengan GKR Hemas duduk lesehan, memberikan audiensi dan penjelasan isi dari Sabda Raja di ndalem Wironegaran, Suryomentaraman, Panembahan, Yogyakarta, 8 Mei 2015. Sabda Raja dan Dawuh Raja bukanlah keinginan pribadi. Dirinya hanya melaksanakan dawuh Allah lewat leluhur Keraton. TEMPO/Pius Erlangga.

    TEMPO.CO , Yogyakarta: Saudara Raja Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat Sultan Hamengku Bawono X, Gusti Bendara Pangeran Haryo (GBPH) Hadisurya, ditunjuk Sultan menjadi perantara dalam penyelesaian konflik internal keraton usai dikeluarkannya Sabda Raja pada 30 April 2015 dan Dhawuh Raja pada 5 Mei 2015.

    Penunjukan itu terungkap usai Hadisuryo bertemu dengan Sultan di Gedong Jene, Keraton pada 21 Mei 2015 pagi. Hadisuryo adalah anak bungsu dari istri pertama Sultan Hamengku Buwono IX, Kanjeng Raden Ayu Pintoko Purnomo, yang mempunyai lima anak.

    “Saya diminta menjadi perantara dengan saudara-saudara yang lain. Mungkin karena saya anak dari istri pertama HB IX,” kata Hadisuryo saat ditemui di Kantor Keamanan Keraton Yogyakarta, Kamis, 21 Mei 2015.

    Pertemuan yang merupakan inisiatif Hadisuryo itu dimulai pukul 07.00 WIB. Kedatangan Hadisuryo bersama anak-anak dan keturunan dari Pintoko Kusumo. Mereka adalah anak kedua, Gusti Bendara Raden Ayu Murdokusumo dan anak dari anak pertama almarhumah Gusti Kanjeng Ratu Anom, yaitu Raden Mas Oggy Santigi dan istrinya. Sedangkan anak ketiga, GBRAy Darmokusumo berhalangan karena pesawat dari Jakarta baru take off pukul 08.00 WIB. Anak keempat, Kanjeng Gusti Pangeran Aryo (KGPA) Hadikusumo, telah meninggal dunia.

    Mereka hanya ditemui Sultan yang mengenakan pakaian Jawa. Hadisuryo memilih datang belakangan setelah Sultan memberikan penjelasan kedua sabda tersebut kepada publik. Lantaran dia ingin mengkaji dari pernyataan Sultan maupun 10 adik-adiknya yang lain yang menentang.

    Saat bertemu Sultan, Hadisuryo pun menyatakan menolak kedua sabda tersebut, terutama penggantian gelar Sultan dari Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sadasa ing Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengku Bawono ingkang Jumeneng Kasepluh Suryaning Mataram Senopati ing Ngalaga Langgenging Bawono Langgeng Langgening Tata Panatagama. Hadisuryo meminta gelar “khalifatullah” tetap dipertahankan.

    “Otomatis kalau gelar itu masih ada, maka tidak ada sultan perempuan,” kata Hadisuryo yang tiba di Yogyakarta pada Rabu, 20 Mei 2015.

    Solusinya, Hadisuryo akan membahas persoalan tersebut dengan Dewan Saudara. Dewan tersebut terdiri dari 15 orang yang merupakan saudara-saudara Sultan dari lima istri HB IX. Mereka adalah GBPH Hadisuryo, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Hadiwinoto, GBPH Prabukusumo, GBPH Yudhaningrat, GBPH Condrodiningrat, GBPH Pakuningrat, GBPH Cakraningrat, GBPH Suryadiningrat, GBPH Suryametaram, GBPH Hadinegoro, dan GBPH Suryonegoro.

    Sedangkan empat orang lainnya adalah perempuan, yaitu GBRAy Murdokusumo, GBRAy Riaukusumo, GBRAy Padmokusumo, dan GBRAy Darnokusumo.

    Dewan Saudara yang memilih dan mengangkat Sultan HB X menjadi penerus HB IX kala itu. Lantaran sebelum HB IX mangkat, belum ada penunjukkan putra mahkota.

    “Kami (Sultan dan Dewan Saudara) haknya sama. Hanya kedudukan Sultan lebih tinggi sedikit,” kata Hadisuryo.

    Belum ada kejelasan waktu pertemuan Dewan Saudara untuk membahas solusi yang akan disampaikan kepada Sultan. Hadisuryo tidak mempersoalkan apabila solusi tersebut nantinya ditolak Sultan.

    “Saya sampaikan kepada Sultan, kalau pasti ada beda pendapat. Tapi keluarga besar HB IX harus tetap solid,” kata Hadisuryo.

    Menurut Hadisuryo, penjelasan yang disampaikan Sultan kemarin pagi tidak jauh beda dengan yang telah disampaikan kepada saudara lainnya maupun kepada publik. Dia menyayangkan Sultan tidak mengajak bicara saudara-saudaranya sebelum kedua sabda itu dikeluarkan, sehingga muncul polemik. Sultan pun menyatakan memahami kondisi tersebut.

    “Karena ada wangsit dari Sultan Agung, Panembahan Senopati, HB I, dan HB IX,” alasan Sultan. Jawaban tersebut tidak dipercaya oleh Hadisuryo.

    PITO AGUSTIN RUDIANA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Para Pencari Suaka Afganistan dan Data Sejak 2008

    Para pencari suaka Afganistan telantar di depan Kementerian BUMN di Jakarta pada Juli 2019. Sejak 2008, ada puluhan ribu pencari suaka di Indonesia.