Semalam Tunggu Jokowi,100 Siswa Letoi Tak Dapat Kartu Pintar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga berkumpul saat Presiden Joko Widodo membagikan KKS, KIS, KIP dan Kartu Aistensi Sosial di kantor Desa Asrikaton, Kec. Pakis, Kab. Malang, Jawa Timur, 21 Mei 2015. Kartu Aistensi Sosial adalah kartu bagi penyandang Disabilitas. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Warga berkumpul saat Presiden Joko Widodo membagikan KKS, KIS, KIP dan Kartu Aistensi Sosial di kantor Desa Asrikaton, Kec. Pakis, Kab. Malang, Jawa Timur, 21 Mei 2015. Kartu Aistensi Sosial adalah kartu bagi penyandang Disabilitas. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Malang—Puluhan siswa Sekolah Menengah Kejuruan Cendika Bangsa, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, berbaring malas-malasan di sisi halaman Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh, Kamis, 21 Mei 2015. Mereka nampak keletihan.

    Ternyata para siswa itu sudah menginap satu malam di pesantren yang berada di Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang itu. Mereka menunggu pembagian Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Kartu Indonesia Sehat (KIS) oleh Presiden Joko Widodo pada Kamis siang, 21 Mei 2015.

    Kepala SMK Cendika Bangsa, Rachmat Farich, mengatakan ada sekitar 100 siswa yang dibawa ke pesantren asuhan Kiai Lukman Al-Karim tersebut karena mereka masuk daftar penerima KIP.  “Ada 149 siswa sebenarnya yang mendapat KIP, tapi yang mau datang hanya 100 orang,” kata Rachmat sebelum rombongan presiden tiba.

    Semula, kata Rachmat, ia berencana membawa seluruh siswanya. Namun rencana berubah setelah dia mendapat masukan dari pengasuh pesantren bahwa penjagaan pondok oleh pasukan pengamanan presiden sangat ketat. Satu-satunya akses jalan ke Pesantren Bahrul Maghfiroh dari arah pusat Kota Malang ditutup aparat keamanan sehingga siswa SMK Cendika Bangsa bisa-bisa gagal memasuki lokasi kegiatan.

    Berkat bantuan pengasuh pesantren dan Pemerintah Kota Malang, akhirnya seratus siswa SMK Cendika Bangsa dan beberapa guru diangkut Rabu malam, pukul 21.00, dengan menggunakan bus milik Pemerintah Kota Malang. Seluruh anggota rombongan tidur bersama ribuan siswa lainnya yang mendapat KIP dan KIS.

    Mereka tidur berhimpitan dan harus bangun pagi untuk antre mandi. Mereka sarapan dengan menu seadanya. “Tadi pagi saya bangun jam dua pagi karena kamar mandinya dipakai orang banyak sehingga harus mengantre,” kata Tamara, salah seorang siswa SMK Cendika Bangsa Jurusan Perhotelan.

    Namun, antusiasme siswa berbuah kekecewaan. Mereka lelah menunggu dan gagal bertemu presiden. Agenda bersalaman dengan Jokowi pun batal karena tidak masuk dalam daftar penerima "kartu sakti" tersebut. Alhasil, banyak siswa berwajah lesu dan hanya duduk-duduk menyebar di halaman menunggu bus yang akan mengangkut mereka pulang ke Kepanjen.

    Presiden Jokowi lancar membagikan 9.870 KIS, 7.216 KIP, 1.435 kartu keluarga sejahtera, dan bantuan bagi 41 orang dengan kecacatan berat  (ODKB). Seluruh kartu diserahkan secara simbolik kepada sejumlah perwakilan di wilayah Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu. Selain itu, Presiden juga membagi 18 sepeda, masing-masing enam sepeda untuk tiap lokasi pembagian.

    Presiden didampingi Ibu Negara Iriana, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, dan Gubernur Jawa Timur Soekarwo. Tiga kepala daerah, yakni Bupati Malang Rendra Kresna, Wali Kota Malang Mochamad Anton, dan Wali Kota Batu Eddy Rumpoko, hadir di masing-masing lokasi pembagian kartu.

    ABDI PURMONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Mereka yang Dianggap Layak Jadi Menteri, Tsamara Amany Disebut

    Nama-nama yang dianggap layak menjabat menteri kabinet Jokowi - Ma'ruf kuat beredar di internal partai pendukung pasangan itu. Tsamara Amany disebut.