Polisi Bebaskan 12 Pendemo Anarkistis di Makassar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aksi demonstrasi mahasiswa di Makassar. Tempo/Fahmi Ali

    Aksi demonstrasi mahasiswa di Makassar. Tempo/Fahmi Ali

    TEMPO.CO, Makassar - Kepolisian Resor Kota Besar Makassar membebaskan 12 mahasiswa yang diduga terlibat bentrok di Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Selatan, saat peringatan Hari Kebangkitan Nasional, Rabu kemarin. Kepolisian berdalih tidak memiliki cukup bukti untuk menjerat para mahasiswa itu.

    "Kami tidak menemukan adanya tindak pidana yang dilakukan mereka jadi kami lepaskan," kata Kepala Bagian Operasional Polrestabes Makassar, Ajun Komisaris Besar Abdul Azis, Kamis, 21 Mei 2015. Mereka hanya ditahan beberapa jam di Markas Polrestabes Makassar, sebelum akhirnya dipulangkan pada malam hari seusai kejadian.

    Dalam bentrokan yang melibatkan mahasiswa melawan polisi bersama pegawai DPRD Sulawesi Selatan itu, kepolisian sebenarnya menangkap 16 mahasiswa. Namun, 4 di antaranya terluka sehingga dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara. Mereka sempat menjalani perawatan dan setelahnya dibiarkan pulang.

    Demonstrasi massa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Makassar itu berujung bentrok setelah terjadi saling dorong antara mahasiswa dengan petugas yang berjaga. Dalam kejadian itu, kaca gedung dipecahkan demonstran. Mereka juga melempari kantor wakil rakyat itu sebelum akhirnya dibubarkan dan ditangkap aparat kepolisian.

    Selain di Kantor DPRD Sulawesi Selatan, demonstrasi anarkistis dalam peringatan Harkitnas juga terjadi di depan Kampus Universitas Muhammadiyah dan Universitas Islam Negeri. Bahkan, bentrokan antara mahasiswa dan polisi terjadi sampai malam hari di depan kampus Unismuh Makassar, Jalan Alauddin.

    Dalam peristiwa itu, seorang anggota Samapta Bhayangkara Kepolisian Resor Gowa, Brigadir Kepala Ivno M, terkena anak panah pada bagian kaki kirinya. Tak hanya polisi, dua jurnalis yang meliput bentrokan itu juga terkena anak panah pada bagian tangannya. Keduanya adalah Aksa, wartawan Go TV dan Fadjar Thalib, wartawan Metro TV. "Iya benar ada polisi dan wartawan yang kena panah," ucap Azis.

    Saat ini, kata Azis, polisi masih melakukan tugas pengamanan mengawal demo mahasiswa maupun kelompok masyarakat. Selepas Harkitnas, pihaknya mengawal demo peringatan Hari Reformasi, Kamis, 21 Mei. Menurut Azis, pengamanan demo Hari Reformasi tak jauh berbeda dengan Harkitnas.

    Dari pantauan Tempo hari ini, ratusan polisi tampak siaga di jembatan layang alias fly over Makassar. Tampak pula kendaraan taktis, seperti water cannon. Juga terlihat dua mobil ambulans di lokasi itu.

    TRI YARI KURNIAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.