Mantan Wapres Boediono: Tugas Dubes Burhan Tidak Enak  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Boediono saat rapat di Istana Negara, Jakarta, 4 Agustus 2014. TEMPO/Subekti

    Wakil Presiden Boediono saat rapat di Istana Negara, Jakarta, 4 Agustus 2014. TEMPO/Subekti

    TEMPO.COYogyakarta - Mantan Wakil Presiden RI Boediono dan istrinya, Herawati, turut melayat ke rumah duka kediaman Duta Besar Indonesia untuk Pakistan, Burhan Muhammad, di Notoprajan Ngampilan, Yogyakarta, sebelum almarhum dimakamkan pada Rabu, 20 Mei 2015. Dalam kenangannya, Boediono mengungkapkan mengenal Dubes Burhan saat masih menjabat sebagai wakil presiden mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono.

    “Saya mengenal beliau saat di Istana, dan terus mengikuti perkembangan tugas dia dari jauh,” ujar Boediono kepada Tempo di rumah duka.

    Boediono menilai, sebagai duta besar, tugas dan tanggung jawab yang diemban Dubes Burhan termasuk golongan tugas yang “tidak enak”. “Tidak enak karena tugas (dubes) di Pakistan itu terhitung tidak mudah,” kata Boediono. Tidak mudah dalam pengertian Boediono karena wilayah tugas Dubes Burhan termasuk wilayah sulit atau rawan konflik.

    Wakil Menteri Luar Negeri A.M. Fachir pun membenarkan pernyataan Boediono soal wilayah tugas Dubes Burhan yang dianggap tidak enak itu. “Pakistan terkenal punya masalah domestik dan politik lokal yang rawan keamanan, meskipun Indonesia tak mengurusi sampai urusan domestik di sana,” tutur Fachir.

    Selain itu, Pakistan dianggap sebagian orang termasuk wilayah rawan karena berbatasan atau bertetangga dengan Afganistan. “Kondisi politik di Afganistan dengan keamanan yang tak kondusif ini sering mempengaruhi politik lokal di Pakistan pula, tapi beliau bertahan dan bisa konsentrasi dengan tugasnya,” Fachir menjelaskan.

    Fachir menuturkan urusan bilateral terakhir yang masih dikerjakan Dubes Burhan sebelum kecelakaan nahas itu adalah mengawal kehadiran pemimpin Pakistan turut serta dalam Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada April 2015. “Almarhum juga sedang mengawal hubungan perekonomian dua negara dalam bentuk perdagangan semakin luas dengan menyelesaikan sejumlah hambatan lokal di Pakistan,” ucap Fachir.

    Adik kandung Dubes Burhan yang juga Dubes Indonesia untuk Bahrain, Chilman Arisman, memilih tak menjawab saat ditanya ihwal tugas-tugas atau hambatan yang selama ini diurus Dubes Burhan selama di Pakistan. “Karena ini persoalannya tentang negara lain, sebaiknya saya tak menjawab,” ujar Chilman.

    Dubes Burhan dan istrinya meninggal akibat kecelakaan helikopter yang mereka tumpangi di wilayah Pakistan Utara pada 8 Mei 2015. Dubes Burhan meninggal pada Selasa dinihari, 19 Mei 2015, sedangkan istrinya wafat seketika saat kejadian.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menolak Lupa, 11 Kasus Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu

    Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menilai pengungkapan kasus pelanggaran HAM berat masa lalu tak mengalami kemajuan.