Relawan Masuk Kawah Merapi Tanpa Baju Tahan Panas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim SAR Gabungan berangkat dari Posko Selo Boyolali untuk mendaki ke Gunung Merapi, 18 Mei 2018. Mereka berusaha mengevakuasi Eri Yunanto, 21 tahun, mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang terjatuh ke kawah Gunung Merapi. TEMPO/Ahmad Rafiq

    Tim SAR Gabungan berangkat dari Posko Selo Boyolali untuk mendaki ke Gunung Merapi, 18 Mei 2018. Mereka berusaha mengevakuasi Eri Yunanto, 21 tahun, mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang terjatuh ke kawah Gunung Merapi. TEMPO/Ahmad Rafiq

    TEMPO.CO , Boyolali: Tim SAR Gabungan berjuang keras selama beberapa hari untuk mengevakuasi Erri Yunanto yang terjatuh ke dalam kawah Merapi. Selain menggunakan peralatan yang cukup lengkap, mereka juga menugaskan enam relawan untuk masuk ke dalam kawah salah satu gunung paling aktif sedunia itu.

    Enam relawan dilengkapi dengan beberapa peralatan. Salah satunya adalah pakaian tahan panas. Sebab, saat dipotret menggunakan thermal camera, suhu di dasar kawah itu mencapai 140 derajat celcius.

    "Namun kami tidak menggunakan pakaian tersebut," kata Bakat Setyawan, salah satu relawan yang terjun hingga dasar kawah saat ditemui usai mengangkut jenazah Erri, Selasa, 19 Mei 2015. Mereka justru memilih menggunakan pakaian lapangan yang biasa digunakan untuk panjat tebing.

    Dia beralasan, pakaian tahan panas berbentuk jubah besar sehingga dianggap kurang fleksibel. "Jika menggunakan pakaian itu, untuk memasang harness full body saja susah," katanya. Bahkan, mereka juga memilih menggunakan sepatu panjatnya untuk menjejak ke pasir yang panas itu. "Untung tidak meleleh," katanya.

    Meski demikian, mereka tetap membawa bekal peralatan berupa breathing aparatus sebagai alat pembantu pernapasan. Alat itu digunakan agar terhindar dari gas beracun jenis CO2 yang bisa keluar sewaktu-waktu dari dalam kawah.

    Enam relawan tersebut bergelantungan dengan tali di dalam kawah hingga sekitar tujuh jam pada Senin kemarin, 18 Mei 2015. Mereka berhasil menjangkau tubuh Erri dan mengikatnya dengan tali. Setelah itu, enam orang itu naik kembali ke bibir kawah. Selanjutnya, baru Selasa siang tim berhasil mengangkat tubuh Erri hingga keluar dari kawah.

    Erri Yunanto adalah mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang mulai mendaki ke puncak Merapi bersama lima orang temannya melalui Dukuh Plalangan, Desa Lencoh, Selo, Boyolali, Jumat, 15 Mei 2015, pukul 22.30 WIB.

    Keenam pendaki tersebut berpisah saat tiba di Pos II. Tiga orang mendirikan tenda dan tiga lainnya melanjutkan perjalanan ke lokasi Pasar Bubrah. Erri bersama dua temannya tiba di Pasar Bubrah, Sabtu, 16 Mei 2015, pukul 03.30 WIB, dan ketiganya sempat istirahat.

    Erri bersama seorang temannya kemudian melanjutkan perjalanan ke puncak Merapi, satu lainnya menunggu sembari istirahat di tenda Pasar Bubrah. Pukul 11.00 WIB, Eri dan temannya tiba di puncak Garuda. Puncak Garuda adalah sebuah batu yang tegak di pinggir kawah Merapi dan merupakan titik tertinggi di area puncak. Mereka sempat berfoto di atas batu itu.

    Malang, saat berjalan turun dari puncak, batu pijakan Erri amblas dan dia terpeleset lalu jatuh ke arah selatan ke dalam kawah. Teman Erri kemudian turun meminta tolong pendaki lainnya di pos II untuk melaporkan kejadian itu ke petugas di base camp New Selo. Tim SAR gabungan baru bisa melakukan pencarian pada Minggu pagi karena beratnya medan.

    AHMAD RAFIQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gerhana Bulan Parsial Umbra Terakhir 2019

    Pada Rabu dini hari, 17 Juli 2019, bakal terjadi gerhana bulan sebagian. Peristiwa itu akan menjadi gerhana umbra jadi yang terakhir di tahun 2019.