Panen, Tengkulak Serbu Sawah Petani

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Buruh tani mengusung batang padi yang usai dipanen, buruh tani memiliki kondisi ekonomi yang mengenaskan, akibat permasalahan modal dan tidak memiliki lahan sendiri.  Demak, Jawa Tengah, 1 Mei 2015. Tempo/Budi Purwanto

    Buruh tani mengusung batang padi yang usai dipanen, buruh tani memiliki kondisi ekonomi yang mengenaskan, akibat permasalahan modal dan tidak memiliki lahan sendiri. Demak, Jawa Tengah, 1 Mei 2015. Tempo/Budi Purwanto

    TEMPO.CO, Cirebon - Tengkulak menyerbu sawah petani yang tengah panen. Harga tinggi ditawarkan untuk membeli gabah petani yang baru panen.

    “Sekarang ini menjual gabah mudah sekali,” kata Suganda, petani asal Desa Pegagan Kidul Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, Selasa 12 Mei 2015. Setiap hari selalu saja ada tengkulak yang mendatangi sawah-sawah petani yang tengah panen.

    Dengan kondisi cuaca yang cukup kering, harga gabah pun ditawar tinggi. “Gabah yang baru panen saja, belum melalui proses penjemuran sudah dihargai Rp 3.700 per kilogram,” kata Suganda.

    Sedangkan jika sudah mengalami sekali penjemuran dihargai pada kisaran harga Rp 4.300-4.400 per kilogram. Sedangkan harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah kering panen (GKP) dihargai Rp 3.700 per kilogram.

    Tingginya harga gabah menurut Suganda dikarenakan lebih dari sepekan ini di Cirebon tak turun hujan. “Kalau hujan, hanya sebentar dan tidak besar,” kata Suganda. Sehingga gabah sudah cukup kering dan dihargai tinggi pula.

    Selain harga tinggi dan penjualan yang sangat mudah, pembayaran pun dilakukan secara tunai. “Kalau tahun lalu masih ada yang dibayar nanti, terutama kalau tengkulaknya sudah kenal,” kata Suganda.

    Namun kondisi itu tidak berlaku tahun ini. Karena semua gabah yang baru dipanen dibayar dengan tunai. Suganda pun tentu sangat senang dengan pembayaran tunai. Karena bisa langsung digunakan sebagai modal untuk melakukan tanam di musim tanam berikutnya.

    Sekrataris Dinas Pertanian Peternakan Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Cirebon, Muhidin, saat dikonfirmasi mengungkapkan jika areal tanaman padi yang belum panen di Kabupaten Cirebon tinggal 25 persen.

    Sedangkan total tanaman padi di musim tanam rendeng saat ini di Kabupaten Cirebon yaitu seluas 43 ribu hektar. “Jadi tinggal 25 persen yang belum panen,” katanya. Areal tanaman padi tersebut tersebar di Kecamatan Gegesik, Panguragan, Kaliwedi dan Susukan.

    Mengenai tengkulak yang menyerbu areal tanaman padi di Kabupaten Cirebon yang mulai panen, Muhidin mengakuinya. Sebenarnya petani di suatu daerah menjadi binaan dari pabrik penggilingan beras yang ada di daerah tersebut. Khususnya untuk pabrik penggilingan beras yang menjadi mitra Bulog. “Sehingga seharusnya mereka pun membeli langsung gabah dari petani,” katanya.

    Namun saat ini yang terjadi beberapa pabrik penggilingan beras justru meminta orang lain untuk turun membeli gabah dari petani yang tengah panen. “Mereka kan ingin dapat untung juga,” katanya. Akibatnya mata rantai pembelian gabah pun menjadi panjang.

    IVANSYAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Enam Poin dalam Visi Indonesia, Jokowi tak Sebut HAM dan Hukum

    Presiden terpilih Joko Widodo menyampaikan sejumlah poin Visi Indonesia di SICC, 14 Juli 2019. Namun isi pidato itu tak menyebut soal hukum dan HAM.