Kreasi Lain Kakek Penambal Jalan: Membuat Pos Ronda  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja melakukan penambalan jalan bolong di Jl Raya Malangbong, Desa Bumi Asih, Kecamatan, Kemantren Kadipaten, Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (23/8). Perbaikan guna memberi kenyamanan dan keselamatan bagi para pemudik yang melintasi jalur tersebut. TEMPO/Subekti

    Pekerja melakukan penambalan jalan bolong di Jl Raya Malangbong, Desa Bumi Asih, Kecamatan, Kemantren Kadipaten, Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (23/8). Perbaikan guna memberi kenyamanan dan keselamatan bagi para pemudik yang melintasi jalur tersebut. TEMPO/Subekti

    TEMPO.COSurabaya - Kreasi Mbah Dul, si penambal jalan protokol di Surabaya yang belakangan moncer, rupanya tak hanya itu. Tukang becak yang sepuluh tahun terakhir menambal jalan dengan menggunakan bongkahan bekas batu aspal itu juga cakap membuat pos kamling di sekitar rumahnya di Jalan Tambak Segaran Gang I, Surabaya.

    Mbah Dul membuat pos ronda itu berbulan-bulan tanpa di bantu tetangganya. Pembangunan posko yang berdiri tepat di gang depan rumahnya itu dia kerjakan setelah pulang dari menarik becak.

    Bahan untuk membuat posko adalah sisa-sisa papan atau balok kayu yang dia temukan selama menarik becak. Jika menemukan papan tak bertuan, dia bawa pulang.

    Begitu pos itu selesai, para tetangganya bersukacita. “Sekarang ini, posko digunakan warga untuk berjaga dan anak-anak bermain,” kata Mbah Dul, 63 tahun, saat ditemui Tempo pada Jumat, 15 Mei 2015.

    Mahmudi, 53 tahun, tetangga Mbah Dul, menjelaskan, satu waktu, mereka terkejut menemukan Mbah Dulu membersihkan got di sepanjang gang itu. Toh, aksi pria sepuh ini tidak mampu mengetuk hati mereka untuk membantu. “Justru banyak yang bilang dia itu gila dan kurang kerjaan,” ujarnya.  

    Mbah Dul bukannya tidak mendengar ejekan itu. Tapi dia berusaha abai. “Saya jengah aja, kampung kok bisa kotor dan tak terawatt. Apalagi got mampet tak kunjung dibersihkan,” ucapnya.

    Menanggapi berbagai komentar teman, keluarga, dan warga di lingkungannya itu, Mbah Dul hanya menjawab dengan terkekeh. Dia mengaku melakukan semua itu dengan tulus dan ikhlas. Tak ada pamrih sama sekali. “Dikira orang gila itu sudah biasa,” tuturnya.

    AVIT HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.