Hasil Tingkat Kecurangan UN Berbasis Komputer Mengejutkan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Siswa dan siswi menerjakan soal Ujian Nasional berbasis komputer di Sekolah Menengah Pertama Penabur 2, Jakarta, 4 Mei 2015. Sekolah tersebut hanya menyediakan sebanyak 105 unit komputer untuk 190 siswa yang dibagi dalam dua sesi. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Siswa dan siswi menerjakan soal Ujian Nasional berbasis komputer di Sekolah Menengah Pertama Penabur 2, Jakarta, 4 Mei 2015. Sekolah tersebut hanya menyediakan sebanyak 105 unit komputer untuk 190 siswa yang dibagi dalam dua sesi. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.COJakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengatakan tingkat kecurangan pada ujian berbasis komputer sebesar nol persen. "Jadi pada UN CBT (computer-based test) tidak terdeteksi ada kecurangan sama sekali," ujar Aneis di Gedung A Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jumat 15 Mei 2015.

    Satu alasan tidak adanya kecurangan dalam ujian berbasis komputer adalah karena model soal yang ditawarkan banyak dan bervariasi. "Soalnya, satu komputer dengan komputer lain berbeda-beda soalnya," ucap Anies.

    Selain itu, sulit bagi siswa mencontek kepada temannya yang menggunakan komputer lain. Anies menjelaskan, pada tahun depan, penggunaan ujian berbasis komputer akan diperluas. "Namun kami harus memikirkan juga soal infrastruktur ujian berbasis komputernya," tutur Anies.

    Infrastruktur yang dimaksudkannya terkait dengan guru pengawas, pengelola, software, serta jaringannya. "Yang pasti, tahun depan akan semakin baik prosesnya," katanya.

    Anies merilis indeks integritas ujian nasional berbasis komputer dan kertas. Ada tujuh daerah yang dinilai mendapatkan nilai indeks integritas tinggi. "Tingkat kecurangan tujuh daerah ini kurang dari 20 persen," ujarnya.

    Tujuh daerah itu adalah Daerah Istimewa Yogyakarta, Bangka Belitung, Kalimantan Utara, Bengkulu, Kepulauan Riau, Gorontalo, dan Nusa Tenggara Timur. Anies menyembunyikan urutan 27 daerah lain yang tingkat kecurangannya di atas 20 persen. 

    Namun, di tiga daerah peringkat terakhir, tingkat kecurangannya di atas 80 persen. "Jumlah kecurangan di atas 80 persen itu mengerikan sekali," tuturnya.

    MITRA TARIGAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Para Pencari Suaka Afganistan dan Data Sejak 2008

    Para pencari suaka Afganistan telantar di depan Kementerian BUMN di Jakarta pada Juli 2019. Sejak 2008, ada puluhan ribu pencari suaka di Indonesia.