Tiga Negara Menolak, Pengungsi Rohingya Terombang-ambing  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Imigran etnis Rohingya menaiki truk militer menuju ke tempat penampungan sementara di Seunudon, Aceh Utara, 10 Mei 2015. Diperkirakan terdapat 7.000-8.000 etnis Rohingya yang terdampar setelah melarikan diri dari Myanmar. AP/S. Yulinnas

    Imigran etnis Rohingya menaiki truk militer menuju ke tempat penampungan sementara di Seunudon, Aceh Utara, 10 Mei 2015. Diperkirakan terdapat 7.000-8.000 etnis Rohingya yang terdampar setelah melarikan diri dari Myanmar. AP/S. Yulinnas

    TEMPO.COJakarta - Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama Manahan Simorangkir mengatakan Indonesia bukan tujuan akhir para pengungsi etnis muslim Rohingya. Menurut dia, pengungsi yang berasal dari Myanmar itu tak sengaja masuk ke perairan Indonesia. "Mereka (pengungsi Rohingya yang terdampar di Aceh) salah jalan," kata Manahan di Tanjung Priok, Jakarta, Jumat, 15 Mei 2015.

    Ketidaksengajaan para pengungsi itulah yang membuat TNI AL tak mengerahkan kapal perang untuk menghalau mereka. Kepala Staf Angkatan Laut Ade Supandi mengatakan pengungsi Rohingya bukan merupakan urusan TNI AL. "Itu sudah di tangan Kementerian Luar Negeri dan pemerintah daerah," kata Ade.

    Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Mochamad Fuad Basya menambahkan, terdapat dua kelompok pengungsi Rohingya yang masuk ke Indonesia melalui jalur laut. Kelompok pertama berjumlah 500 orang dan berlabuh di Pantai Blang Geulumpang, Kecamatan Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara.

    Hingga saat ini, ratusan pengungsi ini masih ditahan di kantor imigrasi setempat. Menurut Fuad, Kementerian Luar Negeri menginstruksikan agar para pengungsi tersebut tidak dipulangkan dahulu. Adapun kelompok kedua ditemukan di lepas pantai perairan Aceh oleh KRI Sutanto.

    Kapal pengungsi berukuran besar itu menampung ribuan pengungsi Rohingya. Berbeda dengan kelompok pertama, kelompok kedua ini diarahkan ke perairan. Menurut Fuad, para pengungsi tersebut meminta diarahkan ke Malaysia.

    Fuad mengatakan kapal besar yang menampung ribuan orang Rohingnya dengan keadaan mengkhawatirkan itu dibekali makanan terlebih dahulu sebelum diarahkan ke Malaysia. "Juga kami bekali bahan bakar kapalnya. Kami memperlakukan mereka dengan sangat baik," ujar Fuad.

    Diperkirakan 7.000-8.000 pengungsi Rohingya Myanmar dan Bangladesh terombang-ambing di Laut Andaman dan Selat Malaka. Mereka dikhawatirkan kelaparan karena ditolak masuk ke Indonesia, Malaysia, dan Thailand.

    Badan pengungsi PBB (UNHCR) mengatakan pemerintah negara-negara ASEAN tengah bermain-main dengan nyawa orang. UNHCR menuding negara-negara ASEAN bermain "pingpong maritim".

    "Kami terus mendesak negara-negara kawasan itu berbagi tanggung jawab menangani krisis kemanusiaan ini. Seharusnya prioritas utama adalah menyelamatkan nyawa dan menyediakan bantuan kemanusiaan," kata juru bicara UNHCR, Vivian Tan, seperti dilansir Channel News Asia.

    INDRA WIJAYA | REZA ADITYA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.