Kebanjiran Wisatawan, Yogya Larang Siswa SMA Konvoi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi siswa SMP melakukan konvoi kendaraan usai melaksanakan Ujian Nasional (UN) di Makassar, 7 Mei 2015. Sejumlah siswa mengindakan praturan sekolah untuk melakukan aksi coret-coret dan konvoi di jalanan usai melaksanakan Ujian Nasional. TEMPO/Fahmi Ali

    Ekspresi siswa SMP melakukan konvoi kendaraan usai melaksanakan Ujian Nasional (UN) di Makassar, 7 Mei 2015. Sejumlah siswa mengindakan praturan sekolah untuk melakukan aksi coret-coret dan konvoi di jalanan usai melaksanakan Ujian Nasional. TEMPO/Fahmi Ali

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta Edi Heri Suasana meminta kepala sekolah dan kepolisian melarang siswa-siswa SMA dan SMK yang lulus ujian nasional melakukan konvoi. "Apalagi saat ini Yogya sedang ramai wisatawan liburan panjang. Kami meminta agar konvoi dilarang," ujar Edi, Kamis, 14 Mei 2015.

    Yogyakarta akan mengumumkan kelulusan siswa SMA dan SMK serentak pada Jumat, 15 Mei 2015. Pada saat ini Yogyakarta dibanjiri wisatawan yang menikmati liburan panjang.

    Menurut dia, ihwal penentuan sanksi terhadap siswa yang nekat berkonvoi di jalan atau malah terlibat tawuran, pemerintah menyerahkannya kepada sekolah dan kepolisian. "Berdasarkan kasusnya, silakan diberi sanksi," ujar Edi.

    Pemerintah Kota Yogyakarta tak memberikan aturan tentangl mekanisme pengumuman kelulusan siswa, apakah akan diberikan lewat orang tua atau kepada siswa langsung. "Kami serahkan kewenangan itu pada sekolah, meskipun baiknya lewat orang tua saja agar siswa tak berkumpul di sekolah," ujarnya.

    Edi menuturkan jumlah siswa tak lulus dari tingkat SMA tahun ini ada sepuluh, termasuk lima siswa yang mengundurkan diri dari ujian. Sedangkan di tingkat SMK, total ada lima siswa yang dinyatakan tak lulus.

    "Jadi seluruhnya ada 15 siswa baik tingkat SMA dan SMK yang tak lulus tahun ini, baik yang mengikuti ujian maupun mengundurkan diri dari ujian," ujar Edi.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kasus Kartel Harga Tiket Pesawat Siap Disidangkan

    Komisi Pengawas Persaingan Usaha menduga mahalnya harga tiket pesawat disebabkan pasar oligopolistik. Citilink dan Lion Air diduga terlibat.