BPK: Stadion Gelora Bandung Gagal Konstruksi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana Stadion Gelora Bandung Lautan Api di Gede Bage, Bandung, Jawa Barat. 2 Oktober 2014. Stadion yang memiliki luas sekitar 40 hektare tersebut, pertama kali dibangun pada 2009. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    Suasana Stadion Gelora Bandung Lautan Api di Gede Bage, Bandung, Jawa Barat. 2 Oktober 2014. Stadion yang memiliki luas sekitar 40 hektare tersebut, pertama kali dibangun pada 2009. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO.CO, Bandung - Kepala Perwakilan BPK Jawa Barat Cornell Syarief Prawiradiningrat mengatakan, lembaganya dua kali melakukan audit terhadap proyek stadion Gelora Bandung Lautan Api(GBLA) di Gedebage, Kota Bandung. “Dari fakta fisik yang diihat, keretakan-keretakannya memang cenderung ada kegagalan konstruksinya,” kata dia saat ditemui Tempo di Bandung, Rabu, 13 Mei 2015.

    Cornell mengatakan, pemeriksaan inisiatif BPK itu sudah dilakukan dua kali, yakni pada Semester 1/2011, selanjutnya Semester II/2013 sebagai bagian dari pemeriksaan APBD Kota Bandung. Kesimpulan kecenderungan terjadinya gagal konstruksi itu diperoleh saat audit Semester II/2013. “Ada persoalan serius di konstruksi,” kata dia.

    Menurut Cornell, BPK saat itu merekomendasikan agar pemerintah Kota Bandung melakukan pemeriksaan teknis melibatkan tim independen dan kompeten untuk menilai konstruksi stadion. Dia beralasan, tim BPK yang memeriksa fisik stadion bukan orang teknik.

    Cornell mengatakan, dari pemeriksaan fisik, auditornya menilai bukan kerusakan bangunan biasa. “Kita melihat kerusakan itu seperit itu bukan kerusakan sederhana. Bukan retak biasa, tapi dia belah, ada (bagian bangunan) yang turun,” kata dia. “Di situ sudah melihat ada penurunan, ada retak konstruksi, hanya tim kami tidak sampai pada pondasi.”

    Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar mengatakan, pemerintah provinsi masih menunggu hasil pemeriksaan keamanan konstruksi Stadion GBLA yang direncanakan menjadi lokasi pembukaan dan penutupan perhelatan Pekan Olahraga Nasional XIX pada 2016 nanti. “Yang penting ada analisis yang betul, akurat, jangan cuman katanya,” kata dia di Bandung, 13 Mei 2015.

    Deddy mengatakan, belum ada jawaban dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang diminta melakukan pemeriksaan stadion, terutama soal konstruksinya. “Aman tidak digunakan untuk pertandingan maupun untuk pembukaan? Walaupun untuk berteduh, aman gak? Nanti lagi berteduh, ambruk,” kata dia. “Apakah itu retak biasa, atau amblasnya berpengaruh pada dia punya konstruksi, atau apa?”

    Menurut Deddy, kesimpulan itu sedang ditunggu untuk memastikan, perlu tidaknya pemindahan lokasi utama perheletan PON XIX pada 2016 nanti. “Kita sudah minta untuk di cek oleh oran gyang ahli dari PU (kementerian), supaya dinilainya objektif, jangan Cuma katanya-katanya sehingga polemiknya berkelanjutan, untuk PON. Kalau ada penyimpangan, itu masalah hukum, silahkan saja,” kata dia.

    Rekomendasi memeriksa stadion GBLA juga diberikan oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Jawa Barat. Kepala Perwakilan BPKP Jawa Barat Hamonongan Simarmata mengatakan, lembaganya diminta oleh pemerintah Jawa Barat untuk mengawasi sekaligus melakukan supervisi persiapan Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX tahun 2016. Salah satu rekomendasi lembaganya soal penggunaan GBLA yang diproyeksikan menjadi lokasi pembukaan dan penutupan perhelatan itu. “Karena pak gubernur di mind-set akan buka seremonial di sana, tiba-tiba bleg (ambruk), maka saya kasih atensi. Tolong dilihat dulu kalau memang gak bisa di situ karena masalah teknis, cari tempat lain,” kata dia, 4 Mei 2015. “Sudah disampaikan.”

    Kepala Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian Komisaris Jenderal Budi Waseso menyarankan Stadion Gelora Bandung Lautan Api di Gedebage tidak digunakan karena khawatir berbahaya. “Terlalu riskan menggunakan stadion untuk acara besar,” kata dia saat mengunjungi stadion itu di Bandung, Kamis, 30 April 2015.

    AHMAD FIKRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Minta Lion Air dan Citilink Turunkan Harga Tiket LCC

    Pemerintah telah memerintahkan dua maskapai penerbangan domestik, Lion Air dan Citilink, untuk menurunkan harga tiket pesawat berbiaya murah.