Bocah Terbelakang Mental Ngaku Dianiaya Ibu Kandungnya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Ilustrasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian Resor Bangkalan, Jawa Timur, mengamankan seorang anak berusia 7 tahun berinisial TF. Warga Kelurahan Bancaran ini diamankan setelah ditemukan warga dalam kondisi kebingunangan di Desa Lebben, Kelurahan Bancaran.

    Lurah Bancaran, Akbar Ayatullah, menuturkan karena penasaran warga kemudian menampung TF. Bocah itu kemudian mengaku dipukuli oleh ibunya, dicambuk dengan kabel dan disundut rokok. Mendengar cerita itu, pada Rabu pagi, 13 Mei 2015, warga beramai-ramai mengantarkan TF ke kantor Kelurahan Bancaran karena menduga ia menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga.

    "Karena bukan wewenang kami, akhirnya kami lapor polisi," kata Akbar, Rabu, 13 Mei 2015.

    Mendengar laporan itu, polisi dari unit Reskrim Polres Bangkalan langsung menuju lokasi. Namun polisi sempat kesulitan untuk mengevakuasi TF.

    Bocah berkepala plontos yang diduga menderita keterbelakangan mental tersebut tampak ketakutan saat melihat orang baru dan takut melihat nyala rokok. Dia baru bersedia dibawa polisi setelah dibujuk dibelikan es krim dan makan.

    Pantauan Tempo, pada punggung tangan, lengan dan telinga sebelah kiri terdapat luka akibat sundutan rokok. Sedangkan pada betis, paha dan dada terdapat luka memar memanjang diduga akibat cambukan kabel. "Saya dipukul oleh Ibu Tena," kata TF saat ditanya wartawan.

    Saat itu ditanya apakah ibu Tena adalah ibunya kandungnya, TF menjawab dengan menganggukkan kepala. "Ini luka karena dipukul," ujar TF sembari mengangkat kausnya untuk memperlihatkan luka bekas cambukan kabel.

    Meski ada bekas kekerasan, Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak, Polres Bangkalan, Ajun Inspektur Satu Endang Widiyaningsih mengatakan belum akan menyelidiki lebih jauh siapa pelaku penganiayaan terhadap TF. "Omongannya korban, belum dapat dijadikan bukti, karena diduga keterbelakangan mental," katanya.

    Untuk sementara, kata Endang, polisi akan mencari tahu tempat tinggal sebenarnya TF. Setelah diketahui, polisi baru bisa mencari tahu siapa pelaku penganiayaan terhadap korban. "Anggota masih di lapangan untuk memastikan tempat tinggalnya," ujarnya.

    MUSTHOFA BISRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.