Seberapa Besar Konsekuensi Sabda Raja? Ini Tafsirnya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • GKR Ratu Hemas mendampingi Ngarso Dalem Sri Sultan HB X pada saat menjelaskan serta meluruskan isi Sabda Raja di Panembahan, Yogyakarta, 8 Mei 2015. Sri Sultan menuturkan Buwono jika diartikan

    GKR Ratu Hemas mendampingi Ngarso Dalem Sri Sultan HB X pada saat menjelaskan serta meluruskan isi Sabda Raja di Panembahan, Yogyakarta, 8 Mei 2015. Sri Sultan menuturkan Buwono jika diartikan "jagat alit". Sedangkan Bawono artinya "jagad besar". TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Dekan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada Mukhtasar Syamsudin memperkirakan ajakan Sultan Hamengku Bawono X ke adik-adiknya agar menemui dirinya tak hanya untuk menjelaskan alasan kemunculan sabda raja I dan II. Mukhtasar menduga Sultan berniat membahas salah satu konsekuensi dari adanya sabda raja I dan II, yakni mengubah isi paugeran di Keraton Yogyakarta. "Paugeran buatan manusia, jadi harus ikut sabda raja yang muncul karena ada wahyu tuhan," kata Mukhtasar pada Selasa, 12 Mei 2015.

    Menurut dia, Sultan kini tampak sedang berupaya menyelaraskan antara wahyu Tuhan, yang dia terima, dengan isi paugeran. Tidak heran, menurut Mukhtasar, Sultan menyatakan beberapa kali mengundang adik-adiknya untuk berkumpul.

    Dia menjelaskan kosmologi Jawa mengikuti prinsip harmoni antara yang bersifat theosentris atau ketuhanan dengan antroposentris, yakni kehidupan manusia. Keduanya perlu keseimbangan. Selama ini tradisi Jawa meyakini Keraton Yogyakarta merupakan pengejawantahan dari perintah tuhan yang terwakili di figur Sultan.

    Karena itu, Mukhtasar berpendapat sabda raja I dan II otomatis mengubah sebagian besar isi paugeran di Keraton Yogyakarta. Di lain pihak, penafsiran sabda raja ke dalam paugeran memerlukan pembahasan bersama di internal Keraton Yogyakarta. "Paugeran dan perintah Tuhan tidak bisa diperlawankan," ujarnya.

    Mukhtasar mengatakan proses ini menjadi tidak terhindarkan karena sabda raja I dan II didasarkan pada sumber utama kekuasaan politik di Keraton Yogyakarta, yakni perintah wahyu tuhan lewat bisikan leluhur ke raja. Adapun paugeran hanya sekedar aturan buatan manusia, hasil penafsiran terhadap wahyu tuhan. "Paugeran tidak mengandung kebenaran absolut, sehingga (saat ini) membuka ruang kemungkinan adanya sulthanat (sultan perempuan), jadi bisa saja diubah," kata dia.

    ADDI MAWAHIBUN IDHOM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Instagram Uji Coba Menghilangan Fitur Likes agar Fokus ke Konten

    Instagram tengah lakukan uji coba penghapusan fitur likes di beberapa negara pada Juli 2019. Reaksi pengguna terbelah, sebagian merasa dirugikan.