Bupati Ini Beberkan Maraknya Prostitusi Online Artis  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi prostitusi/pelacuran. David McNew/Getty Images

    Ilustrasi prostitusi/pelacuran. David McNew/Getty Images

    TEMPO.COSubang - Bupati Purwakarta, Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyatakan maraknya bisnis prostitusi online disebabkan oleh gaya hidup konsumtif. "Galau karena gaya hidup dan sifat konsumerisme yang berlebihan," katanya Selasa, 12 Mei 2015.

    Untuk membentengi kegalauan gara-gara gaya hidup dan konsumerisme berlebihan, terutama di kalangan anak muda, Dedi menyodorkan tiga solusi. "Pertama, pendidikan agama. Yang kedua, pendidikan rumah. Dan ketiga, pendidikan sekolah," ujarnya. 

    Dedi menjelaskan, agama harus menjadi pondasi setiap kehidupan masyarakat. Pendidikan rumah sangat penting untuk meningkatkan mental anak-anak.

    Pendidikan rumah yang dimaksud adalah pendidikan yang disesuaikan dengan pribadi anak. "Misalnya, anak laki-laki di kampung ajarkan lagi soal bercocok tanam, menggembala ternak, atau yang di kota ajarkan soal minat dan bakatnya,"

    Adapun anak perempuan harus diberikan kesibukan. Misalnya, memasak, menenun, dan menjahit. Di sekolah, ujar dia, sudah saatnya anak-anak dibekali nilai-nilai kehidupan, bukan nilai yang berbentuk angka untuk mengisi buku rapor. "Sudah saatnya mengembalikan pendidikan yang sesungguhnya pada anak-anak. Jangan biarkan anak diberi harapan palsu soal duniawi," ujar Dedi.

    Ketua PAC Nahdlatul Ulama Kabupaten Purwakarta KH Abun Bunyamin menuturkan orang tua wajib memberikan kebebasan pada anak-anak. "Tapi jangan kebablasan," katanya.

    Sabtu, 9 Mei 2015, Kepolisian Resor Jakarta Selatan mengungkap jaringan prostitusi online yang melibatkan artis. Diduga, prostitusi bertarif puluhan hingga ratusan juta rupiah itu melibatkan pengusaha dan pejabat sebagai konsumennya.

    NANANG SUTISNA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Utang BUMN Sektor Industri Melonjak, Waskita Karya Paling Besar

    Sejumlah badan usaha milik negara di sektor konstruksi mencatatkan pertumbuhan utang yang signifikan. Waskita Karya menanggung utang paling besar.