Sultan Pertanyakan Sabda Raja Batal demi Hukum  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sri Sultan Hamengkubuwono X, raja Kasultanan Yogyakarta, membacakan Sabda Tama (pernyataan raja) di Bangsal Kencono, Kompleks Kraton Yogyakarta, Kamis (10/05). Dalam pernyataannya, Sultan menegaskan bahwa Kraton Yogyakarta dan Kraton Puro Pakualaman merupakan satu kesatuan yang utuh, dan bahwa Yogyakarta memiliki tata peraturannya sendiri meskipun telah bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. TEMPO/Suryo Wibowo

    Sri Sultan Hamengkubuwono X, raja Kasultanan Yogyakarta, membacakan Sabda Tama (pernyataan raja) di Bangsal Kencono, Kompleks Kraton Yogyakarta, Kamis (10/05). Dalam pernyataannya, Sultan menegaskan bahwa Kraton Yogyakarta dan Kraton Puro Pakualaman merupakan satu kesatuan yang utuh, dan bahwa Yogyakarta memiliki tata peraturannya sendiri meskipun telah bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. TEMPO/Suryo Wibowo

    TEMPO.CO, Jakarta - Sultan Hamengku Buwono X mempertanyakan hasil pertemuan adik-adiknya yang menyebutkan Sabda Raja dan Dhawuh Raja itu cacat dan harus batal demi hukum. Menurut Raja Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat itu, istilah batal demi hukum tersebut tidak tepat.

    “Batal demi hukum apa? Iki (ini) aturan keraton. Bukan aturan institusi republik,” kata Sultan saat ditemui di Kepatihan Yogyakarta, Selasa, 12 Mei 2015. “Demi hukum endi (mana), ya kan? Kalau tradisi lain. Kalau hukum, hukum apa? Sultan kan mutlak,” kata Sultan menegaskan.

    Pertemuan sepuluh adik-adik Sultan, baik yang tinggal di Yogyakarta maupun Jakarta itu berlangsung di kediaman Kanjeng Bendara Pangeran Haryo (KGPH) Hadiwinoto pada Kamis malam, 7 Mei 2015. Pertemuan itu digelar seusai keenam adik dari Jakarta bertemu dengan Sultan pada hari yang sama di Keraton Kilen.

    Begitu pula berkaitan dengan permintaan DPRD DIY agar Sultan menyampaikan isi paugeran keraton kepada publik sebagaimana amanah UU Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY.  “Jadi kalau orang bilang paugeran itu urusan internal keraton, salah!” kata Wakil Ketua DPRD DIY dari Fraksi PAN Arif Noor Hartanto kepada Tempo pada 8 Mei lalu.

    Sementara itu, adik tiri Sultan, GBPH Yudhaningrat, menganalogikan keberadaan Sabda Raja dan Dhawuh Raja itu membuat keraton seperti kereta api yang sudah berjalan ke luar dari relnya. Tinggal didorong lalu jatuh dengan mudah.

    Khususnya mengenai Dhawuh Raja yang memberikan nama kepada anak sulung Sultan, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pembayun menjadi GKR Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawono Langgeng ing Mataram yang ditengarai bakal menjadi pengganti Sultan sebagai raja nantinya. “Itu akan membawa keraton menuju jurang kesengsaraan dinasti H.B. X,” kata Yudhaningrat.

    Yudhaningrat menjelaskan, dinasti H.B. X akan mati lantaran keraton tak lagi meneruskan kekhalifahan, yang menempatkan laki-laki sebagai pemimpin. Jika perempuan menjadi raja, mahzabnya akan ikut suami. Leluhur keraton mulai dinasti H.B. X akan hilang dan digantikan dengan mahzab Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Wironegoro yang merupakan suami Pembayun.

    “Yang jadi pancer-nya (keturunan) ya, leluhurnya Wironegoro. Kami enggak tahu leluhurnya seperti apa. Itu kekhawatiran mendalam,” kata Yudhaningrat.

    PITO AGUSTIN RUDIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia Memberangkatkan 529 Kloter pada Musim Haji 2019

    Pada musim haji 2019, Indonesia memberangkatkan 529 kelompok terbang, populer disebut kloter, yang akan dibagi dalam dua gelombang.