Pengungsi Rohingya di Aceh Diperkirakan 1000 Orang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang aggota kepolisian membagikan sejumlah pakaian kepada ratusan etnis Rohingya di tempat penampungan di Lhoksukon, Aceh, 11 Mei 2015. REUTERS

    Seorang aggota kepolisian membagikan sejumlah pakaian kepada ratusan etnis Rohingya di tempat penampungan di Lhoksukon, Aceh, 11 Mei 2015. REUTERS

    TEMPO.COJakarta - Kementerian Luar Negeri RI berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk menangani ratusan, atau menurut kabar sekitar seribu, warga Rohingya dan Bangladesh yang mendarat di Lhokseumawe, Aceh, Minggu, 10 Mei 2015.

    "Kemlu sedang menuju Lhokseumawe guna berkoordinasi dengan pihak imigrasi, Badan Pengungsi PBB (UNHCR), dan Organisasi Migrasi Internasional (IOM)," kata Direktur Informasi dan Media Kementerian Luar Negeri Sofia Sudarma, Senin, 11 Mei 2015.

    Adapun jumlah pengungsi belum dapat dipastikan. Sebelumnya disebutkan jumlah pengungsi 600-an orang. Namun data yang belum terklarifikasi menyebutkan angka ini mencapai 1.000 orang, dengan tujuan semula Malaysia.

    Mitra Salima Suyono, juru bicara UNHCR Jakarta, mengatakan belum dapat memastikan jumlah warga Rohingya yang terdampar di Lhokseumawe. "Kami belum berbicara dengan orang-orang tersebut. Yang bisa dipastikan saat ini adalah kebutuhan orang-orang tersebut telah dipenuhi oleh masyarakat dan pemerintah setempat. Mereka sudah diperbolehkan turun dari kapal," kata Mitra kepada Tempo, Senin, 11 Mei 2015.

    Saat ini baru ada seorang anggota staf UNHCR yang berada di lokasi penampungan. Rencananya, badan PBB itu akan mengirim lebih banyak orang pada Selasa dan Rabu pekan ini. Hal yang akan dipastikan UNHCR selain kebutuhan mereka yakni identifikasi perlindungan internasional yang diperlukan, seperti status pengungsi atau pencari suaka. "Mudah-mudahan kami akan tahu secepatnya," kata Mitra.

    NATALIA SANTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.