Siswi SMP di Malili Nyaris Diperkosa Teman BBM

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi. freedommag.org

    Ilustrasi. freedommag.org

    TEMPO.CO , Malili : Seorang siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Malili, Kecamatan Ussu, Kabupaten Luwu Timur, nyaris diperkosa seorang pria yang dikenalnya di Blackberry Masanger (BBM). Korban yang ditemani orang tuanya melaporkan kejadian yang dialaminya ke Kepolisian Resor Luwu Timur, Senin, 11 Mei 2015.

    Kepala Kepolisian Resor Luwu Timur, Ajun Komisaris Besar, Rio Indra Lesmana, menjelaskan, pelaku sudah ditangkap. Demi privasi dan karena pelaku masih di bawah umur, Rio menolak menyebutkan nama lengkap pelaku. "Kasus ini sementara kami selidiki," kata Rio, Senin.

    Menurut Rio, korban adalah siswi kelas 3 SMP di Malili. Korban sudah lama berkenalan dengan pelaku di BBM. Tapi selama intens berkomunikasi di BBM, korban dan pelaku belum pernah bertemu.

    "Hingga pada waktu itu, korban diajak ketemuan, lalu dibawa ke rumah kerabat si pelaku ini. Rumah itu kosong karena pemiliknya sedang berobat di rumah sakit," kata Rio.

    Pada 10 Mei 2015, pelaku mengajak korban bertemu. Setelah menentukan tempat bertemu, korban dijemput pelaku dengan mengendarai sepeda motor.

    Korban dibonceng menuju ke perumahan Ussu. Di salah satu rumah kosong milik kerabat pelaku, korban nyaris diperkosa. Korban pun memberontak dan berteriak. Suara teriakannya didengar warga di perumahan.

    Saat digerebek di Perumahan Ussu, pelaku nyaris dihakimi warga sekitar. Namun polisi segera tiba di tempat kejadian dan langsung menangkap pelaku. Pelaku pun dibawa ke Polres Luwu Timur.

    Rio meminta agar orang tua dan pihak sekolah selalu mengingatkan putra putrinya untuk melakukan pengawasan pada anak-anaknya. Mereka diminta berhati-hati jika berkenalan dengan orang lain.

    HASWADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Instagram Uji Coba Menghilangan Fitur Likes agar Fokus ke Konten

    Instagram tengah lakukan uji coba penghapusan fitur likes di beberapa negara pada Juli 2019. Reaksi pengguna terbelah, sebagian merasa dirugikan.