TKI Legal dari Bangkalan Cuma 1 Persen

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • 122 TKI ilegal dipulangkan dari Malaysia menggunakan pesawat Hercules, tiba di bandara Juanda, Surabaya, 24 Desember 2014. TEMPO/Fully Syafi

    122 TKI ilegal dipulangkan dari Malaysia menggunakan pesawat Hercules, tiba di bandara Juanda, Surabaya, 24 Desember 2014. TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.CO , Bangkalan: Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, mencatat sepanjang 2014, jumlah tenaga kerja indonesia legal hanya 63 orang. Jumlah ini tidak sampai 1 persen, dibandingkan jumlah TKI ilegal asal Bangkalan yang dideportasi Pemerintah Malaysia dan Arab Saudi pada tahun yang sama.

    "TKI yang dideportasi sepanjang 2014 sebanyak 540 orang," kata Kepala Bidang Pengawasan dan Penempatan Tenaga Kerja, Dinsosnakertrans Bangkalan, Takdir Mulyono, Senin, 11 Mei 2015.

    TKI resmi, kata Takdir, mayoritas memilih bekerja di negara-negara kawasan Asia Tenggara seperti Malaysia, Brunei, Hong Kong, Singapura, dan Taiwan. Mereka bekerja di sektor formal seperti buruh tekstil, eletronik, dan perkebunan kelapa sawit. Tidak ada yang jadi pembantu rumah tangga.

    Menurut Takdir, timpangnya jumlah TKI legal dan ilegal salah satunya dikarenakan faktor pendapatan. Kata Takdir, TKI legal tidak akan menerima gajinya secara utuh karena harus dipotong pajak dan asuransi ketenagakerjaan. Sedangkan, TKI ilegal akan menerima utuh gajinya tanpa ada potongan sedikit pun. "Tapi dari segi keselamatan, lebih enak yang legal, karena selalu terpantau," kata Takdir.

    Takdir mengatakan memang sulit mencegah orang agar bekerja lewat jalur resmi. Para pencari kerja lebih percaya pada keluarganya yang telah lebih dahulu bekerja di luar negeri karena tidak perlu tinggal di penampungan dan bisa langsung mendapat kerja dengan jaminan keluarganya tersebut. "Kalau ilegal yang carikan kerja keluarganya yang lebih dulu jadi TKI," ujar Takdir.

    Muhammad, 40 tahun, warga Desa Jaddih, Kecamatan Socah, adalah salah satu warga yang istrinya berkerja sebagai TKI di Malaysia secara ilegal. "Istri saya berangkat 4 hari lalu, sudah sampai di Malaysia," kata Muhammad.

    Menurut Muhammad, istrinya nekat berangkat lewat jalur Batam karena mendapat jaminan langsung bekerja dari kakak istrinya yang sudah hampir empat tahun bekerja di perkebunan kelapa sawit di Malaysia. Biaya yang dihabiskan sekitar Rp 7 juta. "Tanpa jaminan kakak ipar, saya tidak lepas istri saya berangkat," ujar Takdir.

    MUSTHOFA BISRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Utang BUMN Sektor Industri Melonjak, Waskita Karya Paling Besar

    Sejumlah badan usaha milik negara di sektor konstruksi mencatatkan pertumbuhan utang yang signifikan. Waskita Karya menanggung utang paling besar.