Polisi Periksa Empat Guru Terkait Jual-Beli Kunci Jawaban UN

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengawas membagikan soal kepada peserta Ujian Nasional, di SMPN 5 Cimahi, Jawa Barat, 4 Mei 2015. Ujian Nasional Tingkat SMP di Kota Bandung, dan Cimahi tidak menggunakan UN berbasis komputer (online). TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    Pengawas membagikan soal kepada peserta Ujian Nasional, di SMPN 5 Cimahi, Jawa Barat, 4 Mei 2015. Ujian Nasional Tingkat SMP di Kota Bandung, dan Cimahi tidak menggunakan UN berbasis komputer (online). TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO.COBlitar - Kepolisian Resor Blitar Kota masih memeriksa empat guru sekolah menengah pertama di Gresik terkait dengan dugaan bocornya soal ujian nasional tingkat SMP. Dugaan berawal dari ditemukannya praktek jual-beli kunci jawaban yang melibatkan sejumlah siswa dan empat mahasiswa.

    Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Blitar Ajun Komisaris Naim Ishak mengatakan empat guru tersebut dicokok dari tempat tinggalnya di Gresik pada Minggu, 10 Mei 2015. Mereka terdiri atas tiga guru laki-laki dan satu guru perempuan yang mengajar di SMP negeri dan swasta. “Sampai saat ini, mereka masih kami mintai keterangan,” ucap Naim kepada Tempo, Senin, 11 Mei 2015.

    Naim berujar, keempatnya hingga kini belum ditetapkan sebagai tersangka. Mereka masih dimintai keterangan sebagai saksi atas beredarnya kunci jawaban ujian nasional yang tersebar di Blitar. 

    Penjemputan empat guru itu berdasarkan pengakuan empat mahasiswa yang lebih dulu dimintai keterangan penyidik terkait dengan kepemilikan kunci jawaban UN SMP. Satu mahasiswa mengaku mendapatkan kunci jawaban tersebut dari guru di Gresik.

    Meski sudah memeriksa empat mahasiswa dan empat guru, sampai saat ini polisi masih belum menetapkan satu pun dari mereka sebagai tersangka. Soal peran mereka pun belum dibeberkan secara pasti. “Nanti, kalau dibuka sekarang, mereka bisa menghilangkan barang bukti,” tutur Naim.

    Empat mahasiswa yang sempat dimintai keterangan juga diperbolehkan pulang. Polisi sengaja tak menahan mereka untuk memudahkan pengembangan penyidikan hingga ke level paling atas. "Sebab, diduga para pelaku ini telah berjejaring dan beraksi di berbagai kota di Indonesia."

    Untuk kecocokan kunci jawaban itu sendiri hingga kini polisi belum memperoleh kepastian dari Kementerian Pendidikan. Surat permintaan konfirmasi yang dikirimkan akhir pekan lalu tak kunjung mendapat balasan dari Kementerian. Mereka akhirnya berinisiatif berangkat ke Jakarta untuk mencari kecocokan tersebut.

    Kasus ini berawal dari kegaduhan siswa peserta UN di SMPN 4 Kota Blitar. Sejumlah siswa kedapatan memegang kunci jawaban mata pelajaran bahasa Inggris. Ketika diusut, mereka mengaku mendapatkan dari temannya yang memegang master kunci jabawan. Salinan kunci itu sendiri dijual seharga Rp 5-10 ribu. Sedangkan pemegang master membeli dari pengedar seharga Rp 4 juta. 

    HARI TRI WASONO


  • UN
  •  

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Minta Lion Air dan Citilink Turunkan Harga Tiket LCC

    Pemerintah telah memerintahkan dua maskapai penerbangan domestik, Lion Air dan Citilink, untuk menurunkan harga tiket pesawat berbiaya murah.