Usut Polisi, Ombudsman ke Rumah Novel Baswedan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Novel Baswedan menemui media usai melakukan jumpa pers di Gedung KPK, Jakarta, 10 Mei 2015. Novel juga telah mengadukan penangkapan dirinya kepada Ombudsman. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Novel Baswedan menemui media usai melakukan jumpa pers di Gedung KPK, Jakarta, 10 Mei 2015. Novel juga telah mengadukan penangkapan dirinya kepada Ombudsman. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Ombudsman Budi Santoso mengatakan bakal mendatangi rumah penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi Novel Baswedan pada Senin siang ini, 11 Mei 2015. Tim Ombudsman, menurut dia, perlu meminta keterangan dari banyak pihak yang menyaksikan penangkapan Novel pada Jumat dinihari, 1 Mei 2015.

    "Locus delicti alias tempat terjadinya perkara kan di rumahnya Novel, tentu saja itu menjadi tempat yang akan kami datangi," kata Anggota Ombudsman Budi Santoso kepada Tempo saat dihubungi, Senin, 11 Mei 2015.

    Budi enggan menyebut secara detail rencana timnya saat bekunjung ke rumah Novel. Namun dalam pengusutan yang dilakukan Ombudsman, biasanya tim akan meminta keterangan dari banyak pihak, tidak hanya dari Novel.

    "Kami akan bertanya ke ketua rukun tetangga hingga ke anggota keluarga Novel. Jika ada saksi-saksi lain yang menyaksikan, misalnya tetangga, kami akan mintai keterangan," ujar Budi.

    Sebelumnya, Novel Baswedan mengadukan Kepala Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian Komisaris Jenderal Budi Waseso dan delapan polisi lainnya ke Ombudsman. Pengaduan dilakukan atas peristiwa penangkapan dan penahanan Novel oleh polisi pada Jumat dinihari itu.

    "Budi Waseso diadukan atas tindakan mengeluarkan surat perintah yang menjadi konsideran dalam Surat Perintah Penangkapan dan Penahanan. Ini tak lazim dan bisa disebut mengintervensi penyidik," kata salah satu pengacara Novel, Muji Kartika Rahayu, di Ombudsman, Rabu, 6 Mei 2015.

    Selain Budi Waseso, delapan polisi lainnya yaitu Brigadir Yogi Haryanto atas tindakan melaporkan Novel atas peristiwa penembakan tersangka pencurian sarang burung walet di Bengkulu. "Dia bahkan tak ada di tempat kejadian perkara," kata Muji.

    Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Herry Prastowo juga diadukan karena ia mengubah pasal lalu meneken Surat Perintah Penangkapan Novel.

    Lima penyidik Bareskrim juga dilaporkan atas penangkapan yang diyakini bertujuan di luar penegakan hukum, memaksa hingga hendak mengangkat Novel untuk dibawa ke Bengkulu, termasuk menghalangi penasehat hukum untuk bertemu Novel. Kelimanya adalah Priyo Soekotjo, Agus Prasetyono, Herry Heryawan, T. D Purwantoro, dan Teuku Arsya Kadafi.

    Satu lagi yang diadukan adalah Mahendra, petugas piket di kantor Bareskrim yang pada 1 Mei lalu menghalang-halangi akses pengacara memberikan bantuan hukum kepada Novel.

    MUHAMAD RIZKI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.