Alissa Wahid: Yogyakarta Berhenti Nyaman  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Alissa Qotrunnada Munawaroh alias Alissa Wahid, bersama Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) X. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Alissa Qotrunnada Munawaroh alias Alissa Wahid, bersama Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) X. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Alissa Wahid, putri pertama presiden keempat Indonesia Abdurrahman Wahid, prihatin terhadap maraknya kekerasan seksual yang menimpa perempuan di Yogyakarta.

    Ia berorasi pada acara Malam Solidaritas Jogja Ilang Roso Tribute to Our Sisters di depan Gedung Agung Yogyakarta, Ahad malam, 10 Mei 2015. "Yogya berhenti nyaman, bukan lagi seperti slogan yang dikenal sebagai Yogya berhati nyaman," kata Alissa.

    Acara itu digagas sebagai bentuk keprihatinan atas hilangnya rasa kemanusiaan dan kepedulian terhadap perempuan korban kekerasan. Pencetusnya antara lain Jaringan Perempuan Yogyakarta, One Billion Rising Jogja, dan Perempuan Mahardika.

    Malam solidaritas itu muncul sebagai tanggapan terhadap maraknya kekerasan seksual yang menimpa perempuan. Beberapa pekan lalu, seorang mahasiswi perguruan tinggi swasta ditemukan meninggal setelah melahirkan di dalam kamar kosnya di Yogyakarta. Tak lama setelah itu, seorang mahasiswi perguruan tinggi negeri juga meninggal, diduga mengalami kekerasan seksual.

    Alissa Wahid dalam orasi itu mengatakan meninggalnya dua mahasiswi yang diduga menjadi korban kekerasan seksual menjadi tanda Yogyakarta berhenti nyaman. Dia juga mengkritik pemberitaan lewat media massa yang tidak sensitif terhadap korban. Sejumlah media massa menyebut identitas korban secara gamblang. "Perempuan direndahkan dan dihakimi tanpa rasa. Bagaimana dengan pelakunya?," kata Alissa.

    Menurut dia, penindasan selalu menimpa kepada mereka yang lemah dan dilemahkan. Kelompok minoritas, anak-anak, dan perempuan adalah kalangan yang rentan terhadap penindasan.

    Alissa mengajak semua kalangan, individu maupun orang-orang yang tergabung dalam organisasi, untuk peduli dan melawan segala bentuk penindasan seksual. Ini penting untuk mewujudkan masyarakat yang lebih adil.

    Pada malam solidaritas itu, Alissa juga bergabung dengan ratusan peserta aksi solidaritas membawa lilin dan doa bersama di titik nol. Ratusan peserta yang datang berasal dari berbagai kalangan. Di antaranya anggota aktivis perempuan dari berbagai organisasi non-pemerintah dan mahasiswa. Ada pula keluarga korban kekerasan seksual.

    SHINTA MAHARANI 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ponsel Tanpa IMEI Terdaftar Mulai Diblokir pada 17 Agustus 2019

    Pemerintah akan memblokir telepon seluler tanpa IMEI terdaftar mulai 17 Agustus 2019 untuk membendung peredaran ponsel ilegal di pasar gelap.