Warga Serahkan Kakaktua Jambul Kuning ke Pemerintah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas memperlihatkan kakatua jambul kuning yang berada di dalam botol air mineral kosong setelah berhasil diamankan dari perdagangan satwa liar ilegal di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, 4 Mei 2015. Sebanyak 24 Kakaktua jambul kuing dimasukkan ke dalam botol mineral kosong. Suryanto/Anadolu Agency/Getty Images

    Petugas memperlihatkan kakatua jambul kuning yang berada di dalam botol air mineral kosong setelah berhasil diamankan dari perdagangan satwa liar ilegal di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, 4 Mei 2015. Sebanyak 24 Kakaktua jambul kuing dimasukkan ke dalam botol mineral kosong. Suryanto/Anadolu Agency/Getty Images

    TEMPO.CO , Bekasi: Tiga warga Bekasi dan Jakarta menyerahkan tiga  ekor burung kakaktua Jambul Kuning. "Seluruhnya dalam kondisi sehat, dan terawat," kata Slamet, Kepala Unit Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jakarta, Kementerian Kehutanan, Minggu, 10 Mei 2015.

    Menurut dia, berbagai alasan pemilik mendapatkan burung tersebut, ada dari pemberian teman dan membelinya di jalanan. Rata-rata yang kami jemput sudah jinak,  ujarnya,  malahan dua diantaranya pandai bicara.

    "Burung ini kami serahkan, karena termasuk hewan dilindungi," kata Muhammad Rizal,  warga Bekasi. Ia menyerahkan burung kepada petugas yang berwenang setelah mendapatkan informasi dari media perihal burung dengan nama latin Cacatua Galerita Triton itu hewan langka.

    Slamet  mengatakan, warga banyak yang berminat memelihara karena burung tersebut memiliki keunikan, selain jika juga dapat berbicara, apalagi kalau sering dilatih oleh pemiliknya. Usia burung ini bisa mencapai 20 tahun.

    Slamet menjelaskan, burung asal Irian Jaya ini diambil petugas untuk dikembalikan ke habitatnya, agar kelestarian hewan ini dapat terjaga. Namun sebelum dikembalikan, terlebih dahulu hewan itu dikarantina petugas guna penyesuaian hidupnya di alam liar. Dengan demikian, mereka akan terbiasa dan bisa mandiri hidup di alam bebas.

    "Kalau dipelihara, sudah biasa diberi makan, bahkan disuapi," kata dia. Sehingga mereka cenderung pasif dalam menperoleh makanan. Oleh karenanya, burung-burung itu perlu mendapat latihan khusus saat dikarantina. "Kalau tidak dilatih, mereka akan kesulitan untuk mencari makanan sendiri saat di alam liar nanti," ujar dia.

    Slamet menambahkan, sejak sepekan ini pihaknya telah menjemput delapan ekor burung kakatua Jambul Kuning. Seluruh burung yang dijemput itu, kata dia, dalam kondisi sehat karena sangat dirawat oleh pemiliknya.  Dia mengimbau agar masyarakat yang memelihara burung ini menyerahkan kepada petugas.

    Tapi, kata dia, masyarakat juga bisa memelihara asalkan memiliki penangkaran dan izin dari pemerintah setempat maupun Kementrian Kehutanan. "Burung harus berkembang biak," kata dia.

    ADI WARSONO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gerhana Bulan Parsial Umbra Terakhir 2019

    Pada Rabu dini hari, 17 Juli 2019, bakal terjadi gerhana bulan sebagian. Peristiwa itu akan menjadi gerhana umbra jadi yang terakhir di tahun 2019.