Kerabat Keraton Yogyakarta Kecam Gusti Mung  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sri Sultan Hamengkubuwono X, raja Kasultanan Yogyakarta, membacakan Sabda Tama (pernyataan raja) di Bangsal Kencono, Kompleks Kraton Yogyakarta, Kamis (10/05). Dalam pernyataannya, Sultan menegaskan bahwa Kraton Yogyakarta dan Kraton Puro Pakualaman merupakan satu kesatuan yang utuh, dan bahwa Yogyakarta memiliki tata peraturannya sendiri meskipun telah bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. TEMPO/Suryo Wibowo

    Sri Sultan Hamengkubuwono X, raja Kasultanan Yogyakarta, membacakan Sabda Tama (pernyataan raja) di Bangsal Kencono, Kompleks Kraton Yogyakarta, Kamis (10/05). Dalam pernyataannya, Sultan menegaskan bahwa Kraton Yogyakarta dan Kraton Puro Pakualaman merupakan satu kesatuan yang utuh, dan bahwa Yogyakarta memiliki tata peraturannya sendiri meskipun telah bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. TEMPO/Suryo Wibowo

    TEMPO.COYogyakarta - Gara-gara mengomentari Sabda Raja yang dikeluarkan Raja Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono X, bangsawan Keraton Kasunanan Surakarta, Gusti Kanjeng Ratu Wandansari, mendapat kecaman dari kerabat Keraton Yogyakarta, Kanjeng Raden Tumenggung Poerbokusumo. Dia meminta Gusti Mung, panggilan akrab Wandansari, tidak ikut campur persoalan Keraton Yogyakarta.

    “Karena, untuk masalah Keraton Surakarta, kami tidak ikut campur sama sekali,” kata Poerbokusumo melalui pesan pendek yang diterima Tempo, Kamis, 7 Mei 2015.

    Saat berkunjung ke kediaman Bupati Juru Kunci Makam Imogiri pada 6 Mei 2015, Gusti Mung mencela Sabda Raja yang dikeluarkan Sultan. Dia menilai isinya sudah menabrak paugeran dan tata nilai adat warisan Kerajaan Mataram Islam. Dia mengatakan, apabila Sultan tidak mau menjalankan paugeran yang sudah ada, lebih baik membuat keraton sendiri dengan aturan sendiri.

    Saat itu, Gusti Mung menyatakan Keraton Surakarta sakit hati dengan keluarnya Sabda Raja I pada 30 April. Pada poin keempat, Sultan menyatakan mengubah perjanjian pendiri Mataram, Ki Ageng Giring, dengan Ki Ageng Pemanahan. Menurut Gusti Mung, mengubah perjanjian itu berarti mengingkari diri sebagai penerus trah Mataram. Pernyataan-pernyataan itulah yang membuat Poerbokusumo, cucu Hamengku Buwono VIII, marah. 

    Tatanen jagadmu dhisik. Ojo melu-melu nata jagade liyan (tatalah duniamu/kerajaanmu dulu, jangan menata kerajaan orang lain),” kata Poerbokusumo, yang juga biasa dipanggil Acun Hadiwidjojo. Apalagi, kata dia, Keraton Surakarta sendiri terus didera konflik.

    PITO AGUSTIN RUDIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Utang BUMN Sektor Industri Melonjak, Waskita Karya Paling Besar

    Sejumlah badan usaha milik negara di sektor konstruksi mencatatkan pertumbuhan utang yang signifikan. Waskita Karya menanggung utang paling besar.