Bandung Anggarkan Miliaran Rupiah Benahi Fasilitas KAA  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Huruf logam nama-nama negara hilang dicuri untuk suvenir, di monumen Asia Afrika, Bandung, Jawa Barat, 27 April 2015. Fasilitas umum seperti kursi, pot bunga, dan tanaman hidup rusak. TEMPO/Prima Mulia

    Huruf logam nama-nama negara hilang dicuri untuk suvenir, di monumen Asia Afrika, Bandung, Jawa Barat, 27 April 2015. Fasilitas umum seperti kursi, pot bunga, dan tanaman hidup rusak. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.COBandung - Dinas Pemakaman dan Pertamanan Pemerintah Kota Bandung mulai menghitung anggaran yang dikucurkan untuk membenahi fasilitas Konferensi Asia-Afrika yang rusak dan hilang. Sebanyak 300 bola semen dan 350 kursi taman rusak setelah perayaan Konferensi Asia-Afrika pada 24 April 2015. 

    Semua fasilitas rusak akibat warga yang saling berdesakan dan tak tertib ketika menyaksikan kegiatan parade dan karnaval dalam peringatan KAA. "Banyak fasilitas rusak, di antaranya 300 bola semen dengan bujet perbaikan sekitar Rp 500 juta, 350 kursi taman rusak sekitar Rp 1 miliar," kata Dadang Darmawan, Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman, di Bandung, Selasa, 7 Mei 2015. 

    Dadang melanjutkan, pihaknya terbantu dengan adanya dana hibah dari perusahaan maupun perorangan dengan total nilai Rp 13-14 miliar. Selain bola semen dan kursi taman, fasilitas rusak lainnya meliputi patung kura-kura, pot bunga, tanaman, dan bendera yang dipasang pada setiap batu semen bertuliskan nama negara. 

    “Dari 300 kura-kura, ada 19 yang hilang, atau 6 pot karena dalam 1 pot ada 3 kura-kura yang menopang. Dan dari 100 pot, 20 di antaranya rusak terinjak. Tapi sudah kami perbaiki sekarang,” ujar Dadang. 

    Anggaran pemeliharaan dari dana APBD tahun 2015 hanya sebesar Rp 5,6 miliar. Anggaran itu lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 6 miliar. "Anggaran tersebut meliputi perawatan taman tematik dan fasilitas rusak. Tapi tidak untuk pendanaan listrik taman film,” tutur Dadang.

    Anggaran itu juga digunakan untuk perawatan taman vertikal. Salah satu contoh taman tersebut berada di Jalan Asia-Afrika, tepatnya di samping gedung Suarha. Puluhan pot tergantung menghiasi pilar-pilar bangunan toko di sekitar jalan tersebut.

    “Pemerintah sudah memberikan fasilitas, kami merawat, masyarakat harus menjaga. Masak, sudah diberi tidak dipelihara,” ucap Dadang.

    DWI RENJANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.