Longsor Susulan di Pangalengan Diperkirakan Jauh Lebih Besar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar meninjau lokasi longsor di Kampung Cibitung, Desa Margamukti, Kecamatan Pangalengan, Jawa Barat, 6 Mei 2015. Deddy menyarankan untuk menanam kembali pohon ditebing longsoran agar tidak terjadi longsor kembali. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar meninjau lokasi longsor di Kampung Cibitung, Desa Margamukti, Kecamatan Pangalengan, Jawa Barat, 6 Mei 2015. Deddy menyarankan untuk menanam kembali pohon ditebing longsoran agar tidak terjadi longsor kembali. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO.COBandung - Ancaman longsor susulan dengan jumlah lebih besar diperkirakan bakal terjadi di Gunung Bedil, Pangalengan. “Kami mengimbau masyarakat dan media tidak main-main di radius 1.000 meter di kawasan bukit,” kata Kepala Kantor SAR Kota Bandung Anggit M. Satoyo kepada Tempo di lokasi longsor di Kampung Cibitung, Desa Margamukti, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung.

    Anggit mengatakan, untuk proses evakuasi pada hari ketiga ini, lokasi longsor akan disterilkan dari masyarakat yang hanya datang untuk menonton.

    Longsor di Kampung Cibitung terjadi pada Selasa siang, 5 Mei 2015. Longsoran tanah yang berasal dari Gunung Bedil tersebut menyebabkan pipa milik PT Dtar Trek pecah. Korban akibat longsor sebanyak empat orang ditemukan tewas. Basarnas, BNPB, TNI, dan Polri masih mencari enam korban lain yang masih tertimbun.

    Selain itu, longsor telah mengakibatkan sejumlah fasilitas publik, seperti jalan, perkebunan, dan rumah warga, tertimbun tanah. Tercatat, kurang-lebih lima rumah di RW 15 Kampung Cibitung rusak parah.

    Pantauan Tempo, dari pintu masuk Kampung Cibitung, sejumlah anggota kepolisian berjaga untuk membatasi warga yang masuk. Di lokasi itu pada pagi ini tidak terlihat gerombolan warga yang datang menyaksikan proses evakuasi. Berbeda dengan kemarin, warga tumplek menonton di area evakuasi.

    Anggit mengatakan potensi longsor susulan tersebut didasarkan pada laporan dari tim geologi yang memeriksa pergerakan tanah di atas bukit sejak kemarin. Tim geologi mengatakan masih terdapat sejumlah retakan di atas bukit. Hal tersebut memicu longsor yang lebih besar. Pasalnya, retakan tersebut berada di atas bukit.

    "Berdasarkan hasil laporan kemarin, di atas bukit masih terdapat mahkota longsoran. Yang dicurigai longsor akan lebih besar lagi," ujarnya.

    Apalagi, ia melanjutkan, sejak Rabu sore hingga malam hari, hujan mengguyur kawasan tersebut. Hal tersebut mengakibatkan aliran air mengalir dan berkumpul pada retakan-retakan tersebut. "Hari ini kami pun menambah tim untuk memantau pergerakan tanah di atas bukit," tuturnya.

    Ia mengatakan, jika tim di atas melaporkan ada pergerakan tanah yang signifikan, pihaknya akan menghentikan proses evakuasi. "Kalau mereka memberikan warning, evakuasi akan dihentikan," ucapnya.

    Pagi ini, tim kembali melakukan evakuasi di dua titik yang telah ditentukan, yakni di kolam pemancingan dan permukiman warga. 

    IQBAL T. LAZUARDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Para Pencari Suaka Afganistan dan Data Sejak 2008

    Para pencari suaka Afganistan telantar di depan Kementerian BUMN di Jakarta pada Juli 2019. Sejak 2008, ada puluhan ribu pencari suaka di Indonesia.