Malu Hanya Tamat SD, Nenek Dua Cucu Ikut UN  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nenek Siti Sahana (55) salah seorang peserta Ujian Nasional tingkat Sekolah Menengah Pertama di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2, Bengkulu.

    Nenek Siti Sahana (55) salah seorang peserta Ujian Nasional tingkat Sekolah Menengah Pertama di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2, Bengkulu.

    TEMPO.CO, Bengkulu - Meski sudah berusia lanjut, tidak menghalangi niat Siti Sahana, 55 tahun, untuk ikut ujian nasional SMP yang diadakan sejak 4-7 Mei 2015. Rasa malu, menjadi alasan Siti untuk mendapatkan ijazah SMP dan meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

    Perempuan yang telah memiliki dua orang cucu ini, mengaku sangat malu dengan para pengajar di sekolah pendidik anak usia dini (PAUD) miliknya, yang rata-rata tamatan sarjana. "Kan malu sebagai kepala sekolah jika hanya tamatan SD," kata Siti saat ditemui seusai ujian nasional bahasa Inggris, di SMP Negeri 2 Kota Bengkulu, Rabu, 6 Mei 2015.

    Siti sendiri merupakan pemilik dan kepala PAUD di Kelurahan Kampung Kelawi, Kota Bengkulu. Di sekolah itu ia memiliki beberapa orang guru yang semuanya tamatan sarjana, dan staf tamatan SMA.

    Sebagai kepala sekolah menurutnya, akan lebih baik jika dia memiliki pendidikan lebih atau paling tidak sejajar dengan guru-guru di sekolahnya. Siti mengaku sangat menyesal karena tidak menyelesaikan bangku SMP. Padahal dia saat itu telah duduk di kelas tiga, tapi karena sibuk mencari uang hingga melupakan pendidikan.

    Setelah mengikuti ujian paket B, Siti mengatakan akan melanjuti ke paket C dan jika masih punya umur, dia akan kuliah. Siti mengaku tidak terlalu kesulitan mengikuti ujian nasional. Karena dia rutin mengikuti proses pembelajaran di PKBM. "Saya harap dapat lulus dengan nilai baik, sehingga tahun depan dapat ikut paket C," ujarnya.

    Terakhir Siti mengimbau kepada para generasi muda agar tidak meninggalkan sekolah. Jangan sampai anak-anak menyesal seperti yang dia rasakan, akibat tidak memiliki pendidikan yang baik.

    Sementara itu panitia paket B, Tahrin Simbang, mengatakan sangat mendukung jika ada masyarakat meski telah berusia lanjut tapi masih memiliki semangat untuk melanjutkan pendidikan. "Sesuai peraturan UU Nomor 20 Tahun 2003 tidak ada batas umur untuk paket B umur mereka minimal 14 tahun," kata Tahrin saat dihubungi.

    PHESI ESTER JULIKAWATI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.