Di Rumah Dukun, Sang Direktur Menyembah Novel Baswedan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO , Jakarta:- Peristiwa ini terjadi akhir Juli 2009 ketika penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi Novel Baswedan kesulitan menemukan Umar Sjarifuddin. Bersama sejumlah anggota penyidik KPK lainnya, Novel muter-muter Kota Bandung, mencari dimana Umar Sjarifuddin, Direktur Utama Bank Jabar ketika itu berada. Umar, baru ditetapkan sebagai tersangka perkara korupsi Rp 37 miliar. Rumah tersangka di Jalan Batununggal 83 suwung. Di daftar tamu hotel-hotel juga tak tercantum namanya.

    Umar raib. Dua kali surat pemanggilan tak digubris. Telepon rumah dan telepon selulernya juga tak diangkat. Ketika itu, Komisi Pemberantasan Korupsi menganggap Umar  layak ditahan. "Rupanya, dia pergi meninggalkan semua telepon di rumahnya," kata seorang penyidik, yang mengetahui pengejaran itu seperti dilansir Majalah Tempo, 15 Oktober 2012.  Penyidik juga menyebut, anak-anak Umar tak tahu posisi aya mereka. (Baca: Novel KPK Gugat Polisi, Tuntut Minta Maaf Pakai Baliho)

    Muter hampir seharian, tim yang dipimpin Novel Baswedan ini baru mendapat kabar dari Kantor Komisi Pemberantasan Korupsi di Jakarta, menjelang malam. Kolega Novel di KPK, memantau lalu lintas percakapan telepon anak Umar. Beberapa nomor asing tercatat menghubungi nomor anak Umar. Semua menunjuk lokasi di Lebak, Banten. Maka bergegaslah Novel dan dua penyidik lainnya, meluncur ke kabupaten di sudut Provinsi Banten itu.

    Sampai di Lebak lewat tengah malam, Novel dan para penyidik itu kebingungan lagi. Tak ada petunjuk lokasi tempat pemilik nomor telepon yang menghubungi anak Umar. Menurut penyidik yang sama, Novel meminta dua anggota timnya berpencar. Pada subuh, mereka mendatangi masjid-masjid. "Orang terpojok biasanya lebih religius," kata Novel, seperti dituturkan penyidik itu kepada Tempo yang mengisahkan peristiwa 2009 itu. (Baca: Gugat Polisi, Novel Baswedan Tuntut Ganti Rugi Rp 1)

    Gagal menemukan Umar di masjid, para penyidik mencari "petunjuk" lain: dukun. Dari obrolan dengan banyak orang, diketahui ada dua dukun populer di wilayah itu. Satu di antaranya menyediakan rumah yang bisa disewa "klien" buat menginap. Ke tempat inilah Novel dan kawan-kawannya menuju.

    Menurut penyidik itu, Novel dan timnya berpura-pura jadi pasien. Mereka melihat ada dua mobil di sekitar rumah itu, yang menurut informasi dari tukang rokok, milik "pasien dari Bandung". Esok paginya, istri Umar terlihat memasuki mobil itu, pergi diantar sopir. Novel meminta koleganya membuntuti. (Baca: Kriminalisasi di Kasus Novel Baswedan Versi Jusuf Kalla)

    Novel, menurut penyidik yang sama, beringsut ke belakang rumah besar dua lantai itu. Di sana, ia bertemu dengan istri dukun, yang menegur dan melarangnya berkeliaran di sekitar rumah. Ketika itu, seorang lelaki setengah baya terlihat menaiki tangga. Novel, yang sebenarnya belum tahu persis wajah Umar, melempar jebakan: "Hei, Umar, mau ke mana?" Gotcha! Lelaki itu menengok. Wajahnya pucat seketika.

    Novel mengejar ke lantai dua. Umar menjatuhkan diri, lalu menyembah. "Ampun, Pak, ampun ." Menurut rekannya, Novel menjawab, "Jangan merendahkan diri menyembahku begitu." Bukannya bangkit, sambil tetap meminta ampun, Umar malah tiarap. Novel lalu memborgolnya. Hari itu juga, 30 Juli 2009, Umar digelandang ke kantor KPK di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Adapun sang dukun dibawa ke polisi setempat karena dituduh melindungi buron koruptor.  Novel hanya tertawa ketika diingatkan peristiwa ini, enam tahun kemudian.  

    AGUSTINA WIDIARSI | BAGJA HIDAYAT | MAJALAH TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Instagram Uji Coba Menghilangan Fitur Likes agar Fokus ke Konten

    Instagram tengah lakukan uji coba penghapusan fitur likes di beberapa negara pada Juli 2019. Reaksi pengguna terbelah, sebagian merasa dirugikan.