Komputer Kurang, Banyuwangi Tak Gelar UN Online

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Siswa peserta ujian nasional tingkat SMP didampingi guru untuk membacakan soal dan memberikan instruksi di Sekolah Luar Biasa Negeri-A Citereup, Cimahi, 4 Mei 2015. Guru pembimbing hanya memberikan instruksi kepada peserta di saat siswa mengalami kesulitan dan tidak memahami soal ujian. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    Siswa peserta ujian nasional tingkat SMP didampingi guru untuk membacakan soal dan memberikan instruksi di Sekolah Luar Biasa Negeri-A Citereup, Cimahi, 4 Mei 2015. Guru pembimbing hanya memberikan instruksi kepada peserta di saat siswa mengalami kesulitan dan tidak memahami soal ujian. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO.COBanyuwangi - Sebanyak 24.797 siswa sekolah menengah pertama di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, hari ini mengikuti ujian nasional. Namun tak satu pun SMP menggelar ujian nasional berbasis komputer atau computer-based test (CBT).

    Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Banyuwangi Suhud mengatakan seluruh SMP di daerahnya belum siap menggelar UN online. Alasannya, belum ada SMP yang memiliki jumlah komputer yang sesuai dengan syarat UN online, yakni sepertiga ditambah 10 persen dari total peserta ujian. 

    “Ketersediaan komputer belum memenuhi syarat tersebut,” kata Suhud kepada Tempo, Senin, 4 Mei 2015.

    Selain karena jumlah komputer yang kurang, kata Suhud, sekolah belum menyiapkan software, hardware, dan brainware untuk menggelar CBT. Aspek software yang dimaksud Suhud yakni ketersediaan program aplikasi CBT yang harus mendukung pelaksanaan ujian tersebut. Dari sisi hardware, jaringan Internet harus dipastikan memiliki bandwidth yang cukup.

    Suhud menargetkan UN SMP berbasis komputer bisa digelar pada 2016. Dinas Pendidikan akan menyiapkan sedikitnya 15 SMP untuk menggelar CBT. “Kami pilih SMP bekas rintisan sekolah berstandar internasional,” katanya.
     
    IKA NINGTYAS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.